Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sektor Konstruksi & Kehutanan Dorong UNTR

Sektor konstruksi dan kehutanan menjadi pendorong pertumbuhan penjualan PT United Tractors Tbk. untuk periode berjalan Januari hingga Februari 2019.
PT United Tractors Tbk. menyumbang 3 unit Bus Transjakarta/Bisnis.com-Miftahul Khoer
PT United Tractors Tbk. menyumbang 3 unit Bus Transjakarta/Bisnis.com-Miftahul Khoer

Bisnis.com, JAKARTA— Sektor konstruksi dan kehutanan menjadi pendorong pertumbuhan penjualan PT United Tractors Tbk. untuk periode berjalan Januari hingga Februari 2019.

United Tractors melaporkan total penjualan alat berat komatsu sebanyak 372 unit untuk periode Februari 2019. Dengan demikian, total penjualan sebanyak 837 unit pada Januari 2019—Februari 2019 atau tumbuh 10,71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pangsa penjualan, kontributor terbesar masih berasal dari sektor pertambangan dengan 53% pada Januari 2019—Februari 2019. Akan tetapi, kontribusi itu lebih kecil dari periode Januari 2018—Februari 2018 sebanyak 59%.

Kontributor terbesar kedua ditempati oleh sektor konstruksi dengan 26%. Persentase itu naik dari 19% pada Januari 2018—Februari 2018.

Pertumbuhan kontribusi penjualan juga dicatatkan oleh sektor kehutanan yang naik dari 9% pada Januari 2018—Februari 2018 menjadi 11% pada Januari 2019—Februari 2019.

Adapun, sektor perkebunan berkontribusi 10% untuk penjualan  periode Januari 2019—Februari 2019 atau turun dari 13% pada periode yang sama tahun lalu.

Saat dihubungi, Investor Relations United Tractors Ari Setiyawan menjelaskan bahwa permintaan dari sektor konstruksi sebagian berasal dari permintaan alat berat untuk proyek infrastruktur. Pihaknya memproyeksikan sektor itu akan terus tumbuh seiring dengan maraknya pembangunan proyek infrastruktur.

Untuk sektor kehutanan, dia menyebut umumnya berasal dari permintaan alat berat untuk hutan tanaman industri (HTI). Penggunaan biasanya ditujukan untuk produksi pulp dan biasanya berkaitan dengan harga komoditas itu.

“Sampai dengan Februari 2019 yang menjadi pendorong adalah sektor konstruksi dan forestry,” jelasnya kepada Bisnis, Jumat (22/3).

Sementara itu, Ari menuturukan permintaan dari sektor pertambangan diproyeksikan akan lebih rendah dari tahun lalu. Hal itu menurutnya disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, karena disparitas harga antara batu bara kalori tinggi dan rendah sangat sangat lebar pada awal 2019. Selain itu, pelanggan tengah memonitor perkembangan harga dan permintaan khususnya untuk batu bara kalor rendah.

Kedua, pemerintah menetapkan produksi batu bara nasional yang lebih rendah pada 2019 dibandingkan dengan tahun lalu.

“Diperkirakan penggunaan alat berat akan lebih sedikit dibanding tahun lalu, sehingga permintaan alat berat untuk sektor pertambangan diperkirakan akan berkurang tahun ini,” jelasnya.

Sebagai catatan, emiten berkode saham UNTR itu memangkas target penjualan alat berat dari 4.900 unit menjadi 4.000 unit pada 2019. Keputusan itu sejalan dengan aktivitas di sektor pertambangan.

Pada 2018, perseroan melaporkan volume penjualan alat berat Komatsu sebanyak 4.878 unit atau naik 29% secara tahunan. Pencapaian itu menurut manajemen didorong oleh seluruh sektor.

Dari total penjualan tahun lalu, sebanyak 51% diserap sektor pertambangan, 24% diserap sektor konstruksi, 15% diserap sektor perkebunan, dan sisanya sebesar 10% ke sektor kehutanan.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis OCBC Sekuritas Indonesia Inav Haria Chandra menuliskan bahwa pihaknya menurunkan target penjualan alat berat UNTR menjadi 4.200 unit tahun ini. Proyeksi tersebut sejalan dengan outlook dari industri yang lebih konservatif.

Inav masih merekomendasikan beli saham UNTR. Target harga berada di level Rp32.000.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham UNTR ditutup menguat 200 poin atau 0,72% ke level Rp28.000 pada sesi perdagangan, Jumat (22/3). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp104,44 triliun dan price earning ratio (PER) 9,39 kali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper