Ditutup Melemah, Rupiah Masih Positif Sepanjang Pekan Ini

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.163 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 22 Maret 2019 18:32 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA –  Meskipun ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (22/3/2019), nilai tukar rupiah masih mencatat penguatan sepanjang pekan. 

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di zona merah dengan pelemahan 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.163 per dolar AS.

Sepanjang pekan ini, rupiah mencatat penguatan hingga 0,68% dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di level Rp14.261 per dolar AS.

Sebelum melemah, rupiah sempat melanjutkan penguatannya dengan dibuka terapresiasi tipis 4 poin atau 0,03% di level Rp14.136 per dolar AS, setelah pada perdagangan Kamis (21/3), rupiah ditutup menguat 48 poin atau 0,34% di posisi Rp14.140 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.136-Rp14.163 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang lainnya di Asia cenderung bergerak variatif, dengan penguatan terbesar dialami oleh peso Filipina yang menguat 0,48%, disusul yen Jepang yang menguat 0,30%.

Di sisi lain, yuan China memimpin pelemahan dengan depresiasi 0,23%, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,22%.

Rupiah melemah  di saat mata uang pasar negara berkembang cenderung melemah hari ini setelah data yang lemah dari Eropa menegaskan kembali kekhawatiran atas pertumbuhan global, menghapus banyak dukungan dari Federal Reserve awal minggu ini dengan kebijakan moneter yang akomodatif.

Dilansir Reuters, survei menunjukkan bahwa sektor Jerman mengalami kontraksi lebih lanjut pada bulan Maret dan aktivitas ekonomi melambat di Prancis dan zona euro secara keseluruhan.

Indeks MSCI mata yang emerging market turun 0,3%, dipimpin oleh pelemahan mata uang di negara-negara Eropa Timur.

"Sentimen risiko akan tertekan, yang pasti negatif untuk mata uang emerging market, terutama di Eropa Timur," kata Jakob Christensen, kepala analis dan kepala penelitian emerging market di Danske Bank, seperti dikutip Reuters.

Data ekonomi hari ini datang dengan prospek kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China terlihat tidak pasti setelah Bloomberg melaporkan bahwa para pejabat AS mengecilkan peluang kesepakatan.

Delegasi perdagangan AS yang dipimpin oleh Perwakilan Dagang Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan mengunjungi China pada 28-29 Maret mendatang.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,127 poin atau 0,13% ke level 96,622 pada pukul 17.38 WIB.

Pada perdagangan Kamis (21/3/2019), indeks dolar ditutup menguat 0,77% atau 0,734 poin di level 96,495. Indeks mulai tergelincir dari penguatannya ketika dibuka turun 0,172 poin di posisi 96,323 pagi ini.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup