Reli 4 Hari Berturut-turut, Rupiah Pimpin Penguatan di Asia

Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya di hari perdagangan keempat berturut-turut terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (20/3/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Maret 2019  |  17:42 WIB
Reli 4 Hari Berturut-turut, Rupiah Pimpin Penguatan di Asia
Karyawan menghitung mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya di hari perdagangan keempat berturut-turut terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (20/3/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melanjutkan penguatannya setelah ditutup terapresiasi 45 poin atau 0,32% ke level Rp14.188 per dolar AS.

Rupiah sebelumnya dibuka dengan penguatan 6 poin atau 0,04% di level Rp14.227 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa (19/3), rupiah ditutup terapresiasi 6 di posisi Rp14.233 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.178-Rp14.235 per dolar AS.

Tak hanya melanjutkan reli penguatan, rupiah juga mencatat penguatan terbesar di antara mata uang lainnya di Asia yang mayoritas juga menguat petang ini. Penguatan rupiah disusul oleh yuan China yang menguat 0,22% dan ringgit Malaysia yang naik 0,22%.

Dilansir Reuters, mata uang di Asia diuntungkan oleh tekanan terhadap dolar AS yang dilanda kekhawatiran atas ekonomi AS dan harapan bahwa Federal Reserve bersikap akomodatif pada pertemuan kebijakan pekan ini.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,059 poin atau 0,06% ke level 96,442 pada pukul 17.35 WIB.

Indeks mulai berupaya bangkit dari pelemahannya ketika dibuka naik tipis 0,015 poin atau 0,02% di level 96,398 pagi ini. Pada perdagangan Selasa (19/3/2019), indeks dolar ditutup melemah 0,15% atau 0,141 poin di level 96,383.

Bangkitnya dolar AS terhadap sebagian besar mata uang lainnya didorong laporan ketegangan baru dalam negosiasi perdagangan antara AS dan China. Tensi tersebut pun mendukung pembelian untuk dolar AS yang memiliki sifat sebagai aset safe haven.

Namun kenaikan dolar AS tampak dibatasi sentimen pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS Federal Reserve yang dijadwalkan berakhir hari ini (Rabu, 20/3) waktu setempat.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di 2,25%-2,50%. Investor juga menantikan petunjuk apakah otoritas moneter AS tersebut akan menegaskan komitmennya untuk bersabar soal kenaikan suku bunga.

Sebagian besar mata uang bergerak dalam rentang sempit sebelum rilis keputusan The Fed. Sejumlah data AS memperlihatkan tanda-tanda baru bahwa negara berekonomi terbesar di dunia tersebut berada di jalur pertumbuhan yang lebih lambat.

"Pasar terlihat telah mengambil posisi dalam mengantisipasi hasil FOMC yang mengkonfirmasi penundaan yang berkelanjutan," kata kepala penelitian pasar Eropa di MUFG, Derek Halpenny, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top