Sektor Konstruksi Sumbang 81% Pendapatan PP Presisi (PPRE)

Pendapatan konstruksi berkontribusi sebesar 81% terhadap total pendapatan PT PP Presisi Tbk. pada 2018.
M. Nurhadi Pratomo | 15 Maret 2019 18:41 WIB
Direktur PT PP Presisi Tbk Hasanin Ade Putra (dari kiri) berbincang dengan Direktur Utama Iswanto Amperawan, Direktur Benny Pidakso dan Direktur Independen Arief Subyandono, seusai RUPS Tahunan di Jakarta, Kamis (5/4/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Pendapatan konstruksi berkontribusi sebesar 81% terhadap total pendapatan PT PP Presisi Tbk. pada 2018.
 
Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan PP Presisi Benny Pidakso menjelaskan bahwa perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan bersih 68% secara tahunan pada 2018. Jumlah yang dikantongi naik dari Rp1,8 triliun pada 2017 menjadi Rp3,1 triliun.
 
Seiring dengan pencapaian itu, dia menyebut pendapatan konstruksi meningkat 76% secara tahunan pada 2018. Nilai yang dikantongi naik dari Rp1,4 triliun pada 2017 menjadi Rp2,5 triliun.
 
Benny mengatakan pencapaian itu didukung oleh peningkatan progres penyelesaian proyek infrastruktur seperti jalan tol Pandaan—Malang, jalan tol Manado—Bitung, jalan tol Balikpapan—Samarinda, proyek bendungan Way Sekampung, bendungan Leuwi Keris, proyek taxiway dan runway Bandara Soekarno Hatta, jalan tol Serang—Panimbang, jalan tol Gempol—Pasuruan, Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, rest area jalan tol Medan—Kualanamu—Tebinggi Tinggi, dan proyek jalan akses PLTA Cisokan.
 
“Pendapatan konstruksi berkontribusi sebesar 81%,” ujarnya dalam siaran pers yang dikutip Bisnis, Jumat (15/3/2019).

Adapun laba kotor meningkat 67% secara tahunan menjadi Rp445,9 miliar pada 2018. Kondisi itu sebagai akibat dari peningkatan linear harga pokok pendapatan terhadap peningkatan pendapatan bersih.
 
Benny mengungkapkan komponen terbesar harga pokok pendapatan yakni biaya bahan dan biaya upah, dengan kontribusi masing-masing sebesar 49% dan 23%. 
 
Biaya bahan meningkat 83% secara tahunan menjadi Rp1,14 triliun pada 2018. Sementara itu, biaya upah tumbuh 117% secara tahunan menjadi Rp535,3 miliar pada tahun lalu.
 
“Kedua peningkatan tersebut seiring dengan peningkatan volume pekerjaan konstruksi,” jelasnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, PP Presisi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup