Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Integra Indocabinet (WOOD) Perbesar Pasar Australia

PT Integra Indocabinet Tbk. membidik peluang memperbesar pasar Australia setelah disepakatinya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD) Wang Sutrisno (dari kanan) bersama Asisten Direktur Clarissa Rusli, dan Direktur Pemasaran Widjaja Karli memperkenalkan produk perseroan, seusai rapat umum pemegang saham, di Surabaya, Senin (4/6/2018)./JIBI-Wahyu Darmawan
Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk. (WOOD) Wang Sutrisno (dari kanan) bersama Asisten Direktur Clarissa Rusli, dan Direktur Pemasaran Widjaja Karli memperkenalkan produk perseroan, seusai rapat umum pemegang saham, di Surabaya, Senin (4/6/2018)./JIBI-Wahyu Darmawan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Integra Indocabinet Tbk. membidik peluang memperbesar pasar Australia setelah disepakatinya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Investor Relation Integra Indocabinet Wendy Chandra mengatakan, perseroan menyambut baik kesepakatan ini karena memberikan peluang produk furnitur dari Indonesia dapat lebih kompetitif dengan produsen lainnya seperti China. Saat ini kontribusi Australia terhadap penjualan ekspor masih minim. 

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2018, penjualan ekspor berkontribusi 67,07% terhadap penjualan perseroan. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar penjualan ekspor. Pada 2017, Australia dan Afrika menyumbang 0,7% terhadap penjualan ekspor. 

Wendy mengatakan, perseroan sedang menjajaki kerja sama dengan retailer Freedom Furniture, yang memiliki jaringan penjualan di Australia dan Selandia Baru.  "Penjajakan sejak tahun lalu. Ini [penghapusan bea masuk] menjadi peluang yang baik, sehingga harganya lebih kompetitif," katanya pada Senin (11/3/2019). 

Emiten dengan kode saham WOOD ini, belum dapat menyampaikan target pertumbuhan penjualan ke Australia pada tahun ini maupun tahun depan. Namun, perseroan cukup agresif memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 50% secara year on year pada 2019. Adapun, margin laba bersih diperkirakan berada pada kisaran 10%-12% pada tahun ini. 

Wendy mengatakan, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi dan akan meluncurkan 3 produk baru. Dia menyebutkan, kapasitas produksi perseroan sebesar 41.650 kubik pada 2018. 

Adapun, 3 produk baru yang akan diluncurkan pada tahun ini yakni, White Prime Moulding/Millwork, Wooden Blind, dan Metal Furniture. White Prime Moulding akan menjadi salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan pendapatan sekitar 12%. Adapun, Wooden Blind dan Metal Funiture akan berkontribusi masing-masing 5% dan 3%. 

"Selain harga yang kompetitif, kami diuntungkan dengan lokasi yang lebih dekat. Selama ini, mereka [Australia] banyak impor dari China," imbuhnya. 

Berdasarkan kesepakatan IA-CEPA, Indonesia menghapuskan tarif impor sekitar 94% atas 10.252 jenis barang impor Australia, sedangkan Australia akan menghapuskan seluruh tarif impor atau 100% atas 6.474 jenis barang Indonesia yang masuk ke Australia. 

Beberapa produk Indonesia yang berpotensi ditingkatkan ekspornya ke Australia di antaranyan produk otomotif, tekstil dan produk tekstil, herbisida dan pestisida, dan produk lainnya seperti kayu dan turunannya (furnitur). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Azizah Nur Alfi
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper