Analis: Harga Bitcoin Bakal Balik ke Level US$20.000

Pasar mata uang kripto (cryptocurrency) resah memikirkan kapan Bitcoin kemungkinan bakal menyentuh level terendahnya ketimbang kapan bakal kembali menghampiri level US$20.000.
Renat Sofie Andriani | 05 Maret 2019 16:39 WIB
CEO INDODAX Oscar Darmawan (kiri) berbincang dengan COO INDODAX Erdita Purnamasari di sela-sela peluncuran wajah baru Bitcoin Indonesia menjadi INDODAX (Indonesia Digital Asset Exchange) di Jakarta, Rabu (14/3). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar mata uang kripto (cryptocurrency) resah memikirkan kapan Bitcoin kemungkinan bakal menyentuh level terendahnya ketimbang kapan bakal kembali menghampiri level US$20.000.

Sentimen pasar saat ini memang sangat rendah. Setiap pergerakan positif dalam harga Bitcoin (BTC) biasanya dimentahkan oleh spekulasi bearish dengan harapan dapat kemudian membeli cryptocurrency nomor satu ini di harga yang lebih rendah.

Namun, menurut tim analis dari perusahaan jasa finansial dan perbankan Canaccord Genuity Capital Markets, Bitcoin tengah berada di titik terendahnya dan akan menemukan jalan kembali ke level tertingginya itu pada atau sekitar Maret 2021.

Sebagaimana diberitakan News BTC, Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran level US$3.700 setelah sempat menyentuh level US$4.200. Angka-angka ini mungkin akan terlihat menggelikan pada Desember 2017 ketika Bitcoin diperdagangkan antara level US$13.000-US$20.000.

Setelah euforia harga Bitcoin yang gila-gilaan mereda, harga berikut kapitalisasi pasar mata uang kripto paling populer ini turun secara signifikan. Sejak itu Bitcoin berjuang untuk menemukan posisi terendahnya (bottom) atau memperoleh momentum bullish kembali.

Menurut Canaccord Genuity Capital Markets, apa yang akan selanjutnya dialami BTC adalah kenaikan yang lambat dan stabil menuju level harga tertinggi sepanjang masanya itu di US$20.000.  Titik ini diperkirakan akan disentuh pada Maret 2021.

Analis Canaccord Genuity Capital Markets, Michael Graham dan Scott Suh, menggunakan model siklus empat tahunan yang berulang untuk mendapatkan estimasi itu.

“Ke depannya, jika Bitcoin terus mengikuti tren yang sama seperti pada tahun 2011-2017, implikasinya adalah bahwa Bitcoin akan berada di posisi terbawah kira-kira saat ini dan akan segera mulai naik kembali menuju titik tertinggi sepanjang masa di US$20.000, secara teoritis mencapai level itu pada Maret 2021,” jelas mereka.

Para analis mengenali pola siklus empat tahun yang terjadi pada grafik harga Bitcoin, yang tampaknya kira-kira bertepatan dengan setiap halving (sistem pengaturan tingkat penciptaan mata uang).

Setiap halving mengurangi jumlah reward yang diterima penambang setelah memvalidasi block dengan sukses. Reward block saat ini adalah 12,5 BTC per block, tetapi setelah halving berikutnya setiap reward akan dipotong setengah menjadi hanya 6,25 BTC.

Dengan pasokan BTC baru menurun, permintaan pun naik sehingga memulai kondisi pasar bullish baru. Tapi itu hanya terjadi jika Bitcoin mengikuti pola yang sama seperti di masa lampau.

Para analis menambahkan ada "beberapa katalis berwujud yang dapat mendorong harga bitcoin pada tahun 2019”. Beberapa katalis itu, menurut Graham dan Suh, di antaranya adalah  pertumbuhan "negara-negara pasar berkembang".

Selain itu, peluncuran solusi perlindungan dan perdagangan cryptocurrency seperti Fidelity Digital Assets dapat membantu Bitcoin menjadi bullish dengan lebih cepat.

Tag : bitcoin, cryptocurrency
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top