Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp520,91 Triliun

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana terus meningkat hingga Februari. Hal itu menunjukkan bahwa optimisme para investor terhadap kinerja pasar modal, baik saham maupun obligasi, masih tinggi. 
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana terus meningkat hingga Februari. Hal itu menunjukkan bahwa optimisme para investor terhadap kinerja pasar modal, baik saham maupun obligasi, masih tinggi. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai NAB reksa dana per Februari 2019 mencapai Rp520,91 triliun, atau naik tipis 0,19% dari posisi Januari sebesar Rp519,90 triliun.

Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen lnvestasi Alvin Pattisahusiwa menilai, kenaikan tipis tersebut lebih disebabkan oleh faktor pasar itu sendiri, seperti valuasi harga obligasi.

“Salah satunya karena faktor valuasi di harga obligasi yang naik dan juga [kinerja] stabil di pasar uang dan terproteksi. Meskipun ada penurunan di IHSG, tapi kan juga tidak terlalu signifikan,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (5/3/2019).

Dirinya memaparkan, ketika IHSG melemah 1,38% sepanjang Februari, kinerja obligasi yang tercermin oleh BINDO Index (Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index) justru tetap naik hingga 1,7%.

Kemudian, imbuh Alvin, dengan melihat porsi masing-masing produk reksa dana dari total keseluruhan reksa dana—seperti reksa dana saham sebanyak kurang lebih 25%—30%, reksa dana tetap sekitar 20%, pasar uang sekitar 10%, dan terproteksi sekitar 20%—tampaknya pergerakan kinerja reksa dana memang seluruhnya tetap positif.

Senada, Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, penopang kenaikan NAB pada bulan lalu datang dari kinerja obligasi yang naik di saat kinerja saham lewat IHSG turun. Adapun, keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga 7—Days Repo Rate di level 6% telah menjadi pendorong kenaikan harga obligasi tersebut.

“Di samping tentu saja, pasar uang tetap naik. Karena pasar uang selalu ada pendapatan bunga,” ujarnya.

Untuk bulan ini, Wawan optimistis NAB reksa dana dapat tumbuh paling tidak hingga Rp525 triliun, dengan harapan bakal mendapat sumbangsih dari kinerja saham.

Dirinya menilai, potensi kenaikan NAB pada bulan ini cukup besar, mengingat indeks saham bakal mendapat dorongan sentimen dari rilis laporan keuangan dan pengumuman dividen.

Sementara dari sisi obligasi, kinerjanya dapat terus naik dan positif sepanjang suku bunga tidak dinaikkan. “Potensinya cukup besar, apalagi dari obligasi pasti terus naik. Yang saham, sepertinya bulan ini juga tekanan sudah mereda, jadi potensi untuk naik lagi itu sangat besar,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper