Minyak Tambah Panas, Harga Karet Terdongkrak

Harga karet rebound dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (27/2/2019), didorong penguatan harga minyak dan langkah produsen untuk mendorong harga.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  16:43 WIB
Minyak Tambah Panas, Harga Karet Terdongkrak
Petani menoreh pohon karet di kawasan perkebunan kebun karet Jawi jawi, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Rabu (5/7). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet rebound dan berakhir menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (27/2/2019), didorong penguatan harga minyak dan langkah produsen untuk mendorong harga.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Agustus 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup menguat 0,85% atau 1,70 poin di level 200,80 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (24/2/2019), harga karet kontrak Agustus berakhir di level 199,10 dengan pelemahan tajam 2,40 poin atau 1,19%.

Padahal harga karet sempat melanjutkan pelemahannya ketika dibuka di zona merah dengan turun 0,05% atau 0,10 poin di posisi 199 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 199,50 – 201,10.

Di Shanghai Futures Exchange, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 juga rebound dan berakhir naik 0,28% atau 35 poin di level 12.460 yuan per ton setelah berakhir melorot 210 poin atau 1,66% di level 12.425 pada perdagangan Selasa (26/2).

Sebagaimana diberitakan Bloomberg, kontrak berjangka karet naik ke level tertingginya dalam lebih dari setahun didorong optimisme atas tindakan produsen untuk mendukung harga dan prospek permintaan. Pada saat yang sama, penguatan harga minyak mentah juga memberi dorongan tambahan untuk karet.

“Harga minyak mentah yang lebih kuat mendukung karet alam,” kata Gu Jiong, seorang analis di Yutaka Shoji, seorang broker di Tokyo.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2019 diperdagangkan di level US$55,91 per barel dengan penguatan 0,74% hari ini pukul 15.30 WIB, setelah ditutup naik 0,04% di level US$55,50 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Selasa (26/2/2019).

Adapun minyak Brent untuk pengiriman April 2019 ikut berakhir naik 45 sen di level US$65,21 per barel di ICE Futures Europe exchange London pada Selasa dan lanjut menguat 0,41% ke posisi 65,48 sore ini.

Minyak mentah membukukan kenaikan terbesar dalam sepekan setelah sebuah laporan industri mengindikasikan penurunan tak terduga pada stok minyak di Amerika Serikat (AS). Sementara itu, Rusia mengonfirmasikan mengurangi output sesuai dengan perjanjian OPEC dan aliansinya.

American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 4,2 juta barel pekan lalu. Penurunan itu akan menjadi yang pertama sejak awal Januari jika data Energy Information Administration (EIA) mengonfirmasikannya pada hari ini waktu setempat.

Di sisi lain, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan Rusia mengurangi produksi minyaknya sebesar hampir 140.000 hingga 150.000 barel per hari dari Desember. Ini konsisten dengan komitmennya terhadap kesepakatan OPEC+.

Minyak mentah telah rally sekitar 23% sepanjang tahun ini didorong upaya pengurangan produksi dan penyeimbangan pasar oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan aliansinya (OPEC+) yang dipimpin Arab Saudi.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Agustus 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

27/2/2019

200,80

+0,85%

26/2/2019

199,10

-1,19%

Sumber: Bloomberg  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top