Minyak Mentah Menguat, Batu Bara Reli Hari Ketiga

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Maret 2019 ditutup menguat 1,10 poin atau 1,17% di level US$94,80 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  08:09 WIB
Minyak Mentah Menguat, Batu Bara Reli Hari Ketiga
Operator mengoperasikan alat berat di terminal batu bara Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Rabu (9/1/2019). - ANTARA/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa ICE Newcastle melanjutkan penguatannya di hari ketiga pada akhir perdagangan Selasa (26/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Maret 2019 ditutup menguat 1,10 poin atau 1,17% di level US$94,80 per metrik ton.

Harga batu bara melanjutkan penguatannya di hari ketiga berturut-turut setelah berakhir naik 0,1 poin atau 0,11% di level US$93,70 per metrik ton pada perdagangan Senin (25/2).

Sementara itu di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif April 2019 ditutup naik 0,74% atau 0,55 poin ke level US$74,65 per metrik ton pada akhir perdagangan Senin.

Sejalan dengan harga batu bara, minyak mentah menguat setelah rilis laporan industri menunjukkan penurunan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2019 diperdagangkan di level US$55,93 per barel pukul 4.34 sore waktu setempat, setelah ditutup di level US$55,50 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Selasa (26/2/2019).

Pada sesi perdagangan Senin (25/2), kontrak WTI anjlok 3,1% ke level US$55,48 per barel, penurunan terbesar sejak 28 Januari.

Harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 ikut rebound dan berakhir naik 45 sen di level US$65,21 per barel di ICE Futures Europe exchange London pada Selasa. Acuan minyak mentah global ini diperdagangkan di level US$9,71 premium terhadap WTI.

Harga minyak naik ke posisi lebih tinggi setelah American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 4,2 juta barel pekan lalu.

Penurunan itu akan menjadi yang pertama sejak awal Januari jika data Energy Information Administration (EIA) mengonfirmasikannya pada Rabu (27/2). Sementara itu, para analis dalam survei Bloomberg memperkirakan kenaikan sebesar 3 juta barel.

API juga melaporkan penurunan persediaan bensin sebesar 3,8 juta barel, kenaikan minyak distilasi sebesar 400.000 barel, dan kenaikan suplai di Cushing, Oklahoma, sebesar 2 juta barel pekan lalu.

Menurut James Williams, presiden perusahaan riset energi WTRG Economics, penurunan kemungkinan akan disebabkan oleh impor Venezuela yang lebih rendah dan ekspor minyak mentah AS yang lebih tinggi.

Sementara itu, pasar tetap fokus pada isu seputar perundingan perdagangan AS-China.

“Pasar kini mencari pendorong berikutnya. Banyak hal akan tergantung pada apa yang tampaknya muncul dari perundingan perdagangan ini,” ujar Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy.

“Jika kita tidak mendapat kesepakatan apa pun atau sepertinya kenaikan tarif akan maju meskipun presiden menundanya untuk sementara waktu, saya tidak akan terlalu terkejut melihat kekhawatiran tentang perlambatan permintaan pertumbuhan muncul kembali,” lanjutnya.

Pergerakan harga batu bara kontrak Maret 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

26 Februari

94,80

(+1,17%)

25 Februari

93,70

(+0,11%

22 Februari

93,60

(+0,05%)

21 Februari          

93,55

(-0,32%)

20 Februari

93,85

(+0,11%)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top