Dijagokan Jadi Komoditas Super Tahun Ini, Harga Nikel Masih Melesu

Nikel gagal mempertahankan posisinya di zona hijau padahal komoditas logam industri tersebut diperkirakan akan menjadi komoditas super 2019 seiring dengan naiknya permintaan baterai kendaraan listrik dan gangguan pasokan global.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  14:50 WIB
Dijagokan Jadi Komoditas Super Tahun Ini, Harga Nikel Masih Melesu
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Nikel gagal mempertahankan posisinya di zona hijau padahal komoditas logam industri tersebut diperkirakan akan menjadi komoditas super 2019 seiring dengan naiknya permintaan baterai kendaraan listrik dan gangguan pasokan global.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan bahwa penurunan harga nikel saat ini berbanding terbalik dengan sentimen fundamentalnya. Pasalnya, secara fundamental sesungguhnya nikel masih berada pada tren bullish mengingat adanya gangguan pasokan global. 

Cadangan stok nikel di bursa London Metal Exchange (LME) diperkirakan terus memburuk, telah menyentuh 199.974 ton turun 0,3% secara mingguan dan telah tergerus 40,5% secara year on year.

“Kami percaya bahwa cadangan stok nikel di bursa LME akan terus memburuk pekan ini. Apalagi kami percaya bahwa cadangan stok tembaga di bursa LME juga akan menurun pekan ini sehingga akan menjadi katalis positif untuk harga nikel global,” ujar Andy seperti dikutip dari riset harian Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Selasa (26/2/2019).

Kenaikan harga tembaga akan menjadi katalis positif bagi harga nikel karena kedua komoditas tersebut saling memiliki korelasi positif yang kuat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (25/2/2019), harga nikel ditutup melemah 0,12% atau turun 15 poin menjadi US$12.975 per ton.

Selain itu, minat investor terhadap revolusi kendaraan listrik juga akan mendorong permintaan nikel, sebagai salah satu bahan dasar baterai kendaraan berlistrik. Fokus dunia otomotif yang kini tertuju pada baterai kendaraan listrik telah mengubah nikel menjadi salah satu pemain super komoditas tahun ini.

Hal tersebut juga tercermin dari nikel yang memiliki kinerja pergerakan harga terbaik di antara logam dasar yang diperdagangkan di bursa London Metal Exchange, yaitu telah menguat 21,38% secara year to date.

Analis Bloomberg NEF James Frith mengatakan bahwa saat ini pasokan kobalt dan kekhawatiran pasar terkait dengan rantai pasokan baterai yang semakin menipis membuat investor dan penambang cemas pada 2018. Di sisi lain, tahun ini semua perhatian mulai beralih ke nikel.

“Nikel saat ini menjadi logam yang paling banyak mendapat perhatian dunia, apalagi komunitas manufaktur baterai,” ujar James seperti dikutip dari Bloomberg.

Nikel diprediksi mencapai level US$20.000 per ton hingga US$25.000 per ton akibat mengetatnya pasokan seiring dengan meningkatnya permintaan sehingga mendorong naik nikel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, Nikel

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top