Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sinyal The Fed Berpotensi Dorong Laju Emas

Seiring dengan sinyal dovish dari The Fed pada pekan lalu, harga emas berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Senin (25/2/2019).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  08:58 WIB
Ilustrasi emas. - Antara
Ilustrasi emas. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas berpotensi mengalami penguatan terbatas pada Senin (25/2/2019), seiring dengan sinyal dovish dari Federal Reserve pada pekan lalu.

Dalam publikasi risetnya, tim analis Asia Trade Point Futures (ATPF) menuliskan ketidakpastian kenaikan suku bunga The Fed tampak menjadi katalis positif bagi harga emas pada perdagangan Jumat (22/2). Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memburu instrumen safe haven tersebut di tengah potensi tercapainya kesepakatan dagang antara AS dengan China.

Namun, sebagian pelaku pasar melihat kedua sentimen tersebut justru membuat mereka menahan diri untuk masuk ke pasar emas. Jika kesepakatan dagang benar-benar akan terwujud, kenaikan emas cenderung akan terbatas.

“Sementara itu, jika The Fed menunjukkan sinyal bullish, emas dipastikan akan kembali terkoreksi,” papar riset Asia Trade Point Futures, Senin (25/2).

Pada Senin (25/2) pukul 08.30 WIB, harga emas spot terkoreksi tipis 0,01% menjadi US$1.329,33 per troy ounce. Harga menguat 3,66% sepanjang tahun berjalan.

Secara teknikal, harga emas menunjukkan tren bullish. Level support berada di posisi 1.310,39, 1.315,85, dan 1.321,85, sedangkan level resisten di posisi 1.333,41, 1.338,97, dan 1.344,97.

Sementara itu, Group Chief Economist National Australia Bank (NAB) Alan Oster beserta tim menyatakan harga emas mulai pulih setelah mencapai titik terendahnya di kisaran US$1.170 per troy ounce pada Agustus 2018.

Kenaikan harga ditopang bertumbuhnya permintaan di Exchange Traded Funds (ETF) dan maraknya investor yang mengambil posisi net long. Peningkatan penyerapan ini tak lepas dari kebijakan dovish dari Amerika Serikat dan upaya pelaku pasar beralih ke safe haven untuk menghindari risiko fluktuasi pasar global.

Oleh karena itu, NAB optimistis harga emas cenderung bullish. Pada akhir 2019, diperkirakan harga dapat menanjak menuju level US$1.350 per troy ounce, kemudian mencapai posisi US$1.390 per troy ounce pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top