ABM Investama (ABMM) Bidik Produksi 12 Juta Ton Batu Bara

Emiten berkode saham ABMM itu telah menyiapkan rencana ekspansi. Rencananya, perseroan akan mengakuisisi tambang batu bara pada 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  18:32 WIB
ABM Investama (ABMM) Bidik Produksi 12 Juta Ton Batu Bara
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan batu bara terintegrasi PT ABM Investama Tbk. membidik produksi batu baru 12 juta ton pada tahun ini atau tumbuh 26,31% dari realisasi 2018.

Direktur dan CFO ABM Investama Adrian Sjamsul menjelaskan bahwa realisasi produksi batu bara perseroan mencapai 9,5 juta ton pada 2018. Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan produksi sekitar 26,31% secara tahunan.

“Tahun ini produksi batu bara bisa 12 juta ton,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/2/2019).

Adrian mengungkapkan emiten berkode saham ABMM itu telah menyiapkan rencana ekspansi. Rencananya, perseroan akan mengakuisisi tambang batu bara pada 2019.

Dia mengatakan tambang batu bara tersebut memiliki cadangan atau reserve sekitar 100 juta ton hingga 150 juta ton. Adapun, lokasi dari tambang tersebut berada di Kalimantan.

Terkait dana akuisisi, sambungnya, ABMM tidak akan menggunakan dana pinjaman. Pihaknya akan menggunakan kas internal perseroan.

Diberitakan Bisnis sebelumnya, ABMM sudah memproduksi batu bara sejumlah 7,1 juta ton per September 2018. Secara detail, produksi itu berasal dari PT Tunas Inti Abadi (TIA) sejumlah 3,4 juta ton, dan PT Mifa Bersaudara sebesar 3,7 juta ton.

Di sisi lain, Adrian menyebut juga akan memacu lini bisnis jasa tambang melalui anak usaha, PT Cipta Kridatama (CK). Tahun lalu, entitas tersebut merealisasikan volume lapisan penutup atau overburden removal (OB) sebesar 140 juta bank cubic meter (BCM).

Dia tidak membeberkan secara detail target OB melalui CK pada 2019. Akan tetapi pihaknya mengklaim bahwa entitas anak tersebut memiliki kapasitas yang besar.

“Saat ini sedang nego kontrak untuk jasa tambang dengan beberapa produsen tambang,” imbuhnya.

Per September 2018, ABBM mengantongi pendapatan US$581,48 juta, naik 16,09% dari US$500,89 juta pada periode September 2017. Lini bisnis kontraktor tambang dan tambang batu bara berkontribusi US$436,39 juta.

Laba bersih perseroan mencapai US$30,25 juta per September 2018. Nilai itu tumbuh 217,03% yoy dari posisi per September 2017 sebesar US$9,54 juta.

Dalam laporan keuangan per September 2018, tertulis CK mempunyai beberapa kontrak jasa pertambangan batubara di beberapa lokasi di Kalimantan, Maluku dan Sumatera. Jangka waktu kontrak bervariasi dan berjalan sampai dengan 2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, emiten tambang

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup