Kinerja 2018 Moncer, Saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) Bertahan di Zona Hijau

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. bergerak di zona hijau sepanjang sesi pertama perdagangan, Jumat (22/2/2019)
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  12:47 WIB

Bisnis.com,JAKARTA— Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. bergerak di zona hijau sepanjang sesi pertama perdagangan, Jumat (22/2/2019), di tengah pergerakan indeks harga saham gabungan yang tergelincir ke zona merah.

Berdasarkan pantauan Bisnis melalui Bloomberg, harga saham emiten berkode saham PGAS itu langsung menuju ke zona hijau pada pembukaan perdagangan, Jumat (22/2/2019). Sampai dengan akhir sesi pertama, anggota Holding BUMN Minyak dan Gas (Migas) itu ditutup menguat 30 poin atau 1,14% ke level Rp2.670.

Sebaliknya, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tersungkur ke zona merah pada perdagangan akhir pekan ini. Indeks mengalami koreksi 52,691 poin atau 0,81% ke level 6.485,075.

Untuk periode berjalan 2019, saham PGAS tercatat bergerak menghasilkan return positif. Laju perseroan di pasar modal masih menguat 25,94%.

Adapun, saham PGAS diperdagangkan dengan price earning ratio (PER) 14,92 kali. Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp64,72 triliun.

Sebelumnya, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2018, Perusahaan Gas Negara mengantongi pendapatan US$3,87 miliar pada akhir 2018. Pencapaian itu naik 8,39% secara tahunan dibandingkan dengan US$3,57 miliar pada 2017.

Manajemen PGAS menjelaskan bahwa pendapatan pada 2018 terutama didapatkan dari hasil penjualan gas senilai US$2,79 miliar serta penjualan minyak dan gas US$585 juta.

Dari situ PGAS mampu mengamankan laba bersih senilai US$304,9 juta atau tumbuh 54,90% secara tahunan. Jumlah itu menurut perseroan ekuivalen dengan Rp4,34 triliun dengan perhitungan kurs Rp14.235 per dolar Amerika Serikat.

Dengan pencapaian tersebut, earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) meningkat menjadi senilai US$1,19 miliar pada 2018. Capaian itu naik 10,18% dari US$1,08 miliar pada 2017.

Pada 2018, PGAS mengakusisi 51% kepemilikan saham di PT Pertamina Gas (Pertagas) dari PT Pertamina (Persero). Transaksi akuisisi tersebut dibukukan dengan menggunakan metode penyaturan kepemilikan sesuai dengan PSAK 38 tentang Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali karena PGAS dan Pertagas merupakan entitas sepengendali di bawah Pertamina.

Said Reza Pahlevi, Direktur Keuangan Perusahaan Gas Negara mengungkapkan pendongkrak kinerja keuangan pada tahun lalu tidak hanya ditopang oleh akuisisi pertagas. Pasalnya, terjadi peningkatan yang signifikan untuk volume penjualan gas.

Tanpa memperhitungkan konsolidasi dengan Pertagas, sambungnya, PGAS mengamankan bottom line atau laba bersih US$242 juta. 

“Seluruh komponen biaya terkendali sesuai dengan rencana. [Efisiensi] yang signifikan [terlihat] kenaikan cost of good sold [COGS] lebih rendah 1% dibandingkan dengan kenaikan revenue,” ujarnya kepada Bisnis,Kamis (21/2).

Menurut laporan keuangan 2018, beban pokok pendapatan perseroan senilai US$2,56 miliar pada 2018. Jumlah itu naik 7,19% secara tahunan.

Pada 2019, Said meyakini perseroan akan terus mengerek kinerja keuangan. Hal itu sejalan pertumbuhan volume di sektor pembangkit dan industri serta telah diakuisisinya Pertagas.

“Pertumbuhan volume di sektor pembangkit dan industri akan sangat mempengaruhi revenue PGAS,” imbuhnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PGN, pgas

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup