Batu Bara Australia Dilarang Masuk ke Pelabuhan China, Batu Bara Indonesia dan Rusia Aman

Bea cukai di Pelabuhan Dalian, China berlakukan pelarangan impor batu bara dari Australia.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  15:32 WIB
Batu Bara Australia Dilarang Masuk ke Pelabuhan China, Batu Bara Indonesia dan Rusia Aman
Operator mengoperasikan alat berat di terminal batu bara Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat, Rabu (9/1/2019). - ANTARA/Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA – Bea cukai di pelabuhan utara China telah melarang impor batu bara Australia sekaligus akan membatasinya secara keseluruhan pada 2019.

Seorang pejabat di Pelabuhan Dalian Grup mengatakan hal tersebut kepada Reuters, Kamis (21/2/2019). Larangan tersebut tidak memiliki batas waktu dan berlaku sejak awal Februari 2019.

Langkah tersebut dilakukan di tengah kebijakan perpanjangan masa tunggu bagi batu bara Australia hingga setidaknya 40 hari oleh pelabuhan-pelabuhan utama China lainnya.

Pejabat yang menolak disebutkan namanya itu mengatakan lima pelabuhan yang diawasi oleh pabean Dalia, yaitu Dalian, Bayuquan, Panjin, Dandong dan Beiliang, tidak akan mengizinkan batu bara Australia masuk. Adapun impor batu bara dari Rusia dan Indonesia tidak akan terpengaruh kebijakan itu.

Terkait hal ini, pabean Dalian maupun Administrasi Umum Pabean belum memberikan komentarnya. Sumber tersebut juga mengaku tidak diberi tahu alasan diberlakukannya larangan impor ini.

Pembatasan ini terjadi di tengah-tengah ketegangan yang membara antara Beijing dan Canberra mengenai sejumlah masalah. Antara lain, keamanan siber dan pengaruh China di negara-negara Kepulauan Pasifik.

Baru-baru ini, Australia mencabut visa pebisnis China terkemuka yang semakin memperuncing hubungan kedua negara. Di sisi lain, Beijing juga telah berusaha membatasi impor batu bara secara lebih umum untuk mendukung harga domestik.

Selama ini, Dalian menangani impor batu bara termal dan kokas. Tetapi, kebijakan tersebut diperkirakan bakal memiliki dampak besar terhadap batu bara kokas, yang digunakan dalam pembuatan baja, dibandingkan dengan batu bara termal yang digunakan untuk listrik.

"Sulit untuk menemukan pengganti batu bara kokas Australia karena kandungan belerangnya sangat rendah," kata seorang manajer pembelian di pabrik kokas besar di provinsi Hebei, China.

Dia menambahkan persediaan saat ini di pelabuhan memang cukup untuk mendukung penggunaan selama 1-2 bulan. Namun, hal itu bisa menjadi masalah dalam jangka panjang, terutama jika pelabuhan lain juga memperketat impor.

Analis Orient Futures Gu Meng menyatakan pelabuhan Dalian menerima sekitar 14 juta ton batu bara pada tahun lalu, yang mana separuhnya berasal dari Australia.

"[Pelarangan] ini akan semakin menekan marjin laba di pabrik baja setelah kecelakaan Vale mengerek harga bijih besi," ujarnya.

Data bea cukai menunjukkan China membeli 28,26 juta ton batu bara kokas dari Australia pada 2018, menyumbang 43,5% dari total impor bahan bakar negara itu.

Sebelumnya, para trader China menghentikan pembelian batu bara Australia karena lamanya waktu penyelesaian administrasi di pelabuhan menjadi 40 hari atau lebih.

Seorang sumber mengatakan, biasanya costum clearance atau proses administrasi pelabuhan memakan waktu 5-20 hari. Namun, sekarang bisa bertambah hingga 45 hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, batu bara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup