Harga Karet Melonjak Lebih dari 2%

Harga karet rebound dan berakhir melonjak lebih dari 2% pada perdagangan hari ini, Senin (18/2/2019), di tengah optimisme tentang perundingan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  15:26 WIB
Harga Karet Melonjak Lebih dari 2%
Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatra Selatan, Selasa (8/1/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet rebound dan berakhir melonjak lebih dari 2% pada perdagangan hari ini, Senin (18/2/2019), di tengah optimisme tentang perundingan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juli 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup melonjak 2,47% atau 4,50 poin di level 187 yen per kg dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (15/2/2019), harga karet kontrak Juli berakhir di level 182,50 dengan pelemahan 2,10 poin atau 1,14%.

Harga karet mulai rebound ketika dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,11% atau 0,20 poin di posisi 182,70 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, harga karet bergerak di level 187,00 – 187,20.

Sejalan dengan karet di Tocom, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange rebound dan berakhir menguat 0,90% atau 105 poin di level 11.745 yuan per ton setelah ditutup melemah 115 poin atau 0,98% di level 11.640 pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (15/2).

Sebagaimana diberitakan Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perundingan perdagangan yang berlangsung pekan lalu dengan pemerintah China di Beijing berjalan sangat produktif.

Kedua belah pihak saling mengisyaratkan bahwa mereka bisa saja mencapai kesepakatan atau memperpanjang perundingan demi mengakhiri konflik perdagangan mereka selama ini.

Selain itu, menurut Zhang Weiwei, analis New Era Futures, penguatan harga didukung langkah sejumlah produsen utama karet di Asia Tenggara untuk menghentikan aktivitas penyadapan karet. Dengan demikian, suplai di dalam pasar dapat berkurang.

Thailand, Malaysia, dan Indonesia, dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada 21-22 Februari guna membahas langkah-langkah untuk menopang pasar karet.

Ketiga negara yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) tersebut sebelumnya direncanakan bertemu awal tahun ini guna membahas proposal untuk memangkas ekspor karet sebesar 300.000 ton pada 2019.

 “Pada saat yang sama, ada spekulasi bahwa China dapat mengambil langkah untuk menstimulasi penjualan mobil setelah kemerosotan lebih lanjut pada Januari,” tambah Weiwei.

Menurut China Association of Automobile Manufacturers, produsen mobil menghadapi lebih banyak kerugian setelah penjualan kendaraan penumpang merosot 17,7% (y/y), penurunan terbesar sejak pasar mulai berkontraksi pertengahan tahun lalu.

Turut menopang penguatan karet, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 hari ini menguat 0,83% atau 0,46 poin ke level US$56,05 per barel pukul 14.29 WIB, sedangkan harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 menguat 0,56% ke level US$66,62 per barel.

Kenaikan tersebut didukung oleh sentimen positif berupa pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sanksi Amerika Serikat terhadap Venezuela serta Iran.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juli 2019 di Tocom

Tanggal                             

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

18/2/2019

187,00

+2,47%

15/2/2019

182,50

-1,14%

14/2/2019

184,60

+0,82%

13/2/2019

183,10

+1,22%

12/2/2019

180,90

+1,74%

Sumber: Bloomberg  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top