Defisit Dagang Memburuk, Rupiah Paling Loyo di Asia

Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang di Asia terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (15/2/2019).
Renat Sofie Andriani | 15 Februari 2019 18:51 WIB
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dan mayoritas mata uang di Asia terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (15/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 64 poin atau 0,45% di level Rp14.154 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (14/2/2019), rupiah mengakhiri pergerakannya dengan pelemahan 31 poin atau 0,22% di level Rp14.090 per dolar AS.

Rupiah mulai melanjutkan pelemahannya terhadap dolar AS ketika dibuka terdepresiasi 6 poin atau 0,04% di level Rp14.096 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.096–Rp14.158 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,16 miliar pada Januari 2019. Posisi neraca ekspor tercatat sebesar US$13,87 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor yang mencapai US$15,03 miliar.

Defisit sebesar US$1,16 miliar tersebut lebih lebar dibandingkan dengan prediksi median sebesar US$917 juta dalam survei Bloomberg.

Dari data BPS, defisit bulan Januari merupakan defisit bulanan terburuk sepanjang masa. Defisit ini dipicu oleh penurunan di sisi ekspor migas dan nonmigas akibat kondisi ekonomi global yang melambat, perang dagang dan penurunan harga komoditas.

Rentetan defisit ini telah dimulai sejak tahun lalu. Sepanjang 2018, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan per bulan yang nilainya rata-rata hampir di atas US$1 miliar. 

“Tampaknya Indonesia tidak benar-benar kebal terhadap perang perdagangan yang sedang berlangsung, yang telah terjadi merugikan ekspor manufaktur banyak negara di seluruh dunia,” ujar Satria Sambijantoro, analis di PT Bahana Sekuritas.

Pelemahan yang dialami rupiah membawanya memimpin di antara mayoritas mata uang di Asia terhadap dolar AS. Menyusul mata uang Garuda adalah won Korea Selatan dan ringgit Malaysia yang masing-masing terdepresiasi 0,31% dan 0,27%.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut menguat 0,116 poin atau 0,12% ke level 97,094 pada pukul 17.46 WIB.

Indeks dolar kembali meraih momentum penguatannya dengan dibuka naik 0,08% atau 0,079 poin di level 97,057. Pada perdagangan Kamis (14/2), indeks tergelincir ke zona negatif dan berakhir turun 0,151 poin atau 0,16% di level 96,978.

Perundingan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China dikabarkan hanya membuat sedikit kemajuan. Sementara itu, data inflasi China dilaporkan menunjukkan hasil yang jauh dari ekspektasi.

Angka inflasi pabrik (factory inflation) China melambat untuk bulan ketujuh, sehingga menambah kekhawatiran tentang kembalinya deflasi dan dampaknya terhadap laba perusahaan yang sudah lesu.

Adapun inflasi konsumen (consumer inflation) turun pada Januari ke level terendah dalam 12 bulan akibat kenaikan yang lebih lambat dalam harga makanan, terlepas dari libur Tahun Baru China, yang biasanya mendorong permintaan makanan.

“Konsumsi yang lebih rendah di Tiongkok kemungkinan akan berdampak pada banyak negara di kawasan yang menghasilkan tekanan pada mata uang secara keseluruhan,” kata Wu Mingze, seorang pedagang valuta asing di INTL FCStone, Singapura.

“Mata uang Asia sebelumnya telah terdampak kekhawatiran seputar perundingan perdagangan AS-China,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

 

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top