Arab Saudi & Venezuela Kurangi Pasokan, Harga Minyak Reli

Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (13/2/2019), didorong sentimen berkurangnya pengiriman dari dua eksportir minyak mentah terbesar di dunia yang melampaui kenaikan pasokan minyak Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  07:40 WIB
Arab Saudi & Venezuela Kurangi Pasokan, Harga Minyak Reli
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Rabu (13/2/2019), didorong sentimen berkurangnya pengiriman dari dua eksportir minyak mentah terbesar di dunia yang melampaui kenaikan pasokan minyak Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2019 ditutup menguat 80 sen di level US$53,90 per barel di New York Mercantile Exchange, level penutupan tertingginya sejak 6 Februari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2019 berakhir menguat US$1,19 sen di level US$63,61 per barel di ICE Futures Europe exchange London. Acuan minyak mentah global ini diperdagangkan di level US$9,30 premium terhadap WTI.

Minyak reli setelah badan energi International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa pergolakan di Venezuela dapat mengganggu aliran minyak mentah global. Pada saat yang sama, Arab Saudi menyatakan akan memperpanjang pemangkasan produksinya.

Sementara itu, laporan Departemen Energi AS menunjukkan jumlah persediaan minyak domestik yang lebih tinggi dari perkiraan dan anjloknya impor.

Persediaan minyak meningkat 3,63 juta barel, sedangkan persediaan bensin, minyak pemanas dan bahan bakar lainnya bertambah sekitar 3 juta barel lebih, menurut data mingguan yang dirilis Energy Information Administration (EIA).

Namun total impor minyak mentah mencapai titik terendahnya sejak 1997, dibatasi oleh langkah Arab Saudi untuk mengurangi pasokan dan sanksi Amerika yang telah menyebabkan kondisi serupa pada Venezuela.

“Peningkatan persediaan agak mengejutkan,” kata Phil Streible, pakar strategi pasar senior di RJO Futures, Chicago. “Namun data impor jauh lebih rendah dari yang diharapkan. Jadi akhirnya, kita akan menghilangkan sebagian dari kelebihan itu.”

Minyak telah naik sekitar 19% tahun ini setelah aliansi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Mentah (OPEC) dan aliansinya menyepakati pemangkasan produksi. Namun reli minyak kemudian tersendat pada Februari di tengah rekor jumlah yang dibukukan minyak shale AS.

Sentimen bullish lainnya untuk minyak pekan ini datang setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar menyejukkan mengenaik perundingan perdagangan dengan China. Komentarnya itu mengindikasikan potensi terhindarnya tarif yang lebih tinggi terhadap impor dari China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top