OPEC Pangkas Produksi, Harga Minyak Bakal Melejit

Harga minyak dunia diperkirakan melejit pada kuartal II tahun ini seiring dengan pemangkasan produksi OPEC dan sekutunya termasuk Rusia,
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  01:59 WIB
OPEC Pangkas Produksi, Harga Minyak Bakal Melejit
Suasana sidang OPEC di Wina, Austria. - Reuters/Heinz/Peter Bader

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia diperkirakan melejit pada kuartal II tahun ini seiring dengan pemangkasan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, demikian menurut laporan Grup Goldman Sachs Group.

Dalam laporan itu, Analis Damien Courvalin mengatakan pihaknya memproyeksikan harga minyak acuan Brent akan melaju di level US$67,50 per barel, meningkat 7% dibandingkan dengan harga saat ini. Estimasi tersebut didorong oleh pulihnya permintaan dan penawaran yang digawangi oleh OPEC.

“Produsen OPEC mengadopsi sebuah strategi kejutan dan mengagumkan, dan melebihi komitmen mereka dalam memangkas produksi,” tulis para analis di laporan tersebutsebagaimana ditulis Bloomberg pada Rabu (13/2/2019).

Analis itu menilai sanksi Venezuela oleh AS telah memunculkan risiko produksi minyak neggara tersebut. Hal itu bertambah cepat, menyusul tambahan sanksi AS terkait dengan industri minyak negara di Amerika Selatan tersebut.

“Produsen [minyak] AS sejauh ini juga mengarah pada penahanan produksi minyak serpih,” tuturnya.

Goldman Sachs menilai harga minyak Brent sudah berjuang untuk mempertahankan kenaikan di tengah kekhawatiran ledakan produksi minyak serpih Amerika Serikat.

Peningkatan tersebut dikhawatirkan bakal merusak usaha pemotongan produksi yang dirintis oleh OPEC. Selain itu, perang dagang antara AS dan China dikhawatirkan bakal melemahkan permintaan minyak dunia.

“Meluasnya kekhawatiran tersebut dalam ekspektasi pertumbuhan global tidak beralasan dan kerugian produksi pada 2019 sudah lebih besar dari yang diperkirakan,” demikian pernyataan Goldman Sachs.

Sebelumnya, Arab Saudi berencana memproduksi sekitar 9,8 juta barel minyak per hari bulan depan. Angka itu lebih dari setengah juta barel per hari di bawah tingkat produksi yang dijanjikan di bawah kesepakatan pemotongan pasokan global, demikian Menteri Energi Khalid al-Falih mengatakan kepada Financial Times dan dikutip dari Reuters.

Menurut artikel yang diterbitkan pada Selasa (12/2) waktu setempat, ekspor minyak Saudi akan turun pada Maret menjadi 6,9 juta barel per hari.

Dengan angka produksi Maret ini berarti Saudi akan secara sukarela memangkas produksi hingga lebih dari 500.000 barel per hari. Jumlah itu di bawah tingkat produksinya yang dijaminkan berdasarkan kesepakatan antara OPEC dan sekutu pimpinan Rusia.

Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada Desember tahun lalu dan mulai berlaku pada awal tahun ini, target produksi Arab Saudi adalah 10,311 juta barel per hari.

Produksi pada Maret nanti menjadi 1,2 juta barel per hari lebih rendah dari produksi November Arab Saudi, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Di sisi lain, kabar dari Saudi ini membawa berkah tersendiri bagi harga minyak dunia. Mengacu data Bloomberg, harga minyak jenis West Texas Intermediate menguat 1,97% atau 1,03 poin di level US$53,44 per barel, pada perdagangan Selasa (12/2), pukul 18:59 WIB. Sedangkan harga minyak jenis Brent menguat 2,23% atau 1,37 poin menjadi US$62,88 per barel di waktu yang sama.

Dalam wawancara tersebut, Falih membahas RUU AS yang dapat mengekspos OPEC terhadap gugatan antimonopoli. Dia mengatakan undang-undang itu bisa berbahaya bagi ekonomi global. Pihaknya berharap bahwa Amerika Serikat bakal berpikir cermat terkait hal tersebut.

Dia mengatakan jika Arab Saudi tidak dapat menyeimbangkan pasar dengan menyesuaikan produksi, dunia akan menderita.

Sebagai informasi, Komite DPR AS menyetujui RUU yang dikenal dengan Undang-Undang Kartel Pengeluaran dan Ekspor Minyak atau NOPEC pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Sumber : Reuters

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top