Bursa Asia Variatif, IHSG Berbalik Melemah di Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berbalik melemah 0,11% atau 6,75 poin ke level 6.412,37 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  13:00 WIB
Bursa Asia Variatif, IHSG Berbalik Melemah di Akhir Sesi I
Pengunjung beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (13/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada akhir sesi I hari ini, Kamis (14/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berbalik melemah 0,11% atau 6,75 poin ke level 6.412,37 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG dibuka rebound dengan penguatan 0,16% atau 10,02 poin ke level 6.419,12, setelah pada perdagangan Rabu (13/2), IHSG ditutup melemah 0,11% atau 7,21 poin di posisi 6.419.12.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, IHSG bergerak di level 6.402,43 – 6.446,34.

Sebanyak 170 saham menguat, 190 saham melemah, dan 267 saham stagnan dari 627 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing melemah 1,3% dan 0,79% menjadi penekan utama pergerakan IHSG siang ini.

Enam dari sembilan sektor menetap di zona merah,didorong oleh sektor aneka industri yang melemah 1,18%, disusul sektor industri dasar yang turun 1,15%.

Di sisi lain, tiga sektor menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut di sesi I hari ini, didorong oleh sektor infrastruktur yang menguat 0,91%.

IHSG melemah di saat indeks saham lainnya di kawasan Asia bergerak variatif siang ini, di antaranya indeks FTSE Straits Time Singapura yang melemah 0,14%, indeks Hang Seng turun 0,46%, sedangkan indeks Topix dan Nikkei 225 menguat masing-masing 0,11% dan 0,13%.

Dilansir Reuters, bursa Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Kamis karena investor berharap pada kemajuan dalam pembicaraan perdagangan China-AS terbaru.

Masih ada sejumlah harapan bahwa penutupan pemerintahan AS (government shutdown ) akan dapat dihindari jika Presiden Donald Trump mendukung kesepakatan di Kongres mengenai pendanaan tembok perbatasan.

Dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Ketua Perwakilan Perdagangan Robert Lighthizer berada di Beijing untuk pembicaraan tingkat tinggi dengan China, investor berani berharap akan ada kabar baik yang muncul.

Trump mengatakan pada hari Rabu pembicaraan dengan China berjalan dengan sangat baik ketika mereka mencoba untuk menyelesaikan sengketa tarif menjelang tenggat waktu 1 Maret.

"Investor sekali lagi sangat optimis bahwa kemajuan akan dibuat dan secara realistis perpanjangan batas waktu tarif perdagangan akan dilihat sebagai hasil yang baik," ungkap Nick Twidale, chief operating officer di Rakuten Securities, seperti dikutip Reuters.

"Secara jangka panjang, hanya bukti dari kesepakatan kedua negara yang akan menghilangkan kehati-hatian investor dan kekhawatiran pertumbuhan global yang telah menjadi penekan selama setahun terakhir,” lanjutnya.

Sementara itu, ekspor China secara tak terduga meningkat pada bulan Januari setelah penurunan mengejutkan pada bulan sebelumnya, sementara impor turun jauh lebih rendah dari yang diperkirakan.

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor Januari naik 9,1% dari tahun sebelumnya. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan 3,2% menyusul kontraksi 4,4% pada Desember 2018.

Sementara itu, impor turun 1,5% dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, jauh lebih baik dari proyeksi analis yang memperkirakan penurunan 10% dan menyempit dari penurunan bulan Desember sebesar 7,6%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top