Penguatan IHSG Masih Terbatas, Bursa Saham Domestik Masih Rentan?

Kinerja pasar saham dalam negeri sepanjang tahun berjalan 2019 masih belum cukup kuat, mengingat capaian kinerjanya yang masih di bawah sejumlah bursa saham di Asia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  07:46 WIB
Penguatan IHSG Masih Terbatas, Bursa Saham Domestik Masih Rentan?
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pasar saham dalam negeri sepanjang tahun berjalan 2019 masih belum cukup kuat, mengingat capaian kinerjanya yang masih di bawah sejumlah bursa saham di Asia.

Sepanjang tahun berjalan 2019, kinerja saham dalam negeri, yang tercermin melalui indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat tumbuh 3,63%. Pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara lainnya di Asean. Indonesia hanya mampu mengungguli indeks saham Malaysia, yakni FTSE BM yang tercatat -0,31%.

Sementara itu, di Asia Pacific, Indonesia hanya mampu unggul dari Malaysia dan India. Indeks Sensex India tercatat tumbuh 0,23%. Melebarnya defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) menjadi pemberat pergerakan IHSG secara year-to-date.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai bahwa melebarnya defisit neraca berjalan sebesar 3,57% pada kuartal IV/2018 atau defisit terdalam sejak kuartal II/2014, menjadi pemberat kinerja rupiah yang seterusnya mempengaruhi IHSG.

“Pasar sedikit grogi karena rupiah melemah. Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor perang dagang AS—China,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (13/2/2019).

Adapun, keputusan Presiden AS Donald Trump untuk tidak bertemu Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat dinilai membawa kekhawatiran di pasar global mengenai prospek penyelesaian sengketa dagang kedua negara.

Dengan demikian, para investor cenderung kembali meninggalkan pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. “Seiring meningkatnya risiko global karena perang dagang dan dari dalam negeri ada masalah CAD, dana asing yang keluar membuat rupiah melemah. Jadi pasar agak grogi saja,” imbuhnya.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai, posisi IHSG yang berada di bawah sejumlah indeks lainnya di kawasan Asia Pasifik terjadi karena IHSG telah lebih dulu reli, yakni sejak. November 2018.

“Beberapa index lainya  low base dan baru reli pada awal tahun ini. Sedangkan IHSG sudah meningkat sejak November 2018. Secara ytd hitungnya dari Januari jadi tentunya [IHSG] kecil,” katanya.

Oleh karena itu, posisi IHSG yang berada di bawah indeks lainnya tersebut merupakan siklus yang mana indeks negara-negara lain baru mulai menguat. 

Di sisi lain, Deputy Chief Investment Officer Mandiri Investasi Aldo Perkasa menilai, kondisi pasar saham Indonesia pada tahun politik kali ini lebih baik dibandingkan dengan 2014. Dia menilai, pergerakan IHSG pada tahun pemilu akan positif. 

“Tahun pemilu, kecenderungan IHSG bergerak positif,” ujarnya dalam acara Mandiri Investasi Market Outlook 2019 bertema Sunshine After the Rain: Finding Pots of Gold at the end of the Rainbow, di Jakarta, Rabu (13/2).

Aldo menjelaskan bahwa pada 2013, pasar saham Indonesia diterpa aksi jual. Kala itu, sentimen pemberat dari eksternal datang dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang mulai memasuki masa pengetatan moneter.

Sementara itu, dari domestik, Indonesia terkendala masalah defisit neraca berjalan. Alhasil, rupiah terdepresiasi dan IHSG melemah 0,98% secara tahunan. Namun demikian, kepastian dari Pilpres 2014 berhasil melambungkan IHSG hingga 22,29% secara tahunan.

“2014 menarik, kurang lebih kondisinya sama [dengan 2019 nanti]. Karena 2013 pertama kali The Fed melakukan pengetatan, rupiah terdepresiasi, dan ada masalah CAD juga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Aldo menunjukkan bahwa pada 2014 memang terjadi perlambatan ekonomi Indonesia di mana PDB 2014 turun ke level 5,02% dari tahun sebelumnya 5,78%. Namun demikian, hal itu tetap tidak memengaruhi aktivitas perdagangan saham (trading) yang dibuktikan dengan penguatan indeks.

Adapun untuk tahun ini, pasar saham Indonesia diperkirakan bakal pulih beriringan dengan pasar negara berkembang (emerging market) lainnya. Pasalnya, sentimen dovish dari kenaikan suku bunga AS dan antisipasi dampak dari perang dagang diharapkan dapat melegakan emerging market.

Kendati pemulihan untuk Indonesia relatif lebih rendah ketimbang negara-negara berkembang lainnya, pasar saham tanah air diperkirakan tetap akan dapat menikmati keuntungan dari berbaliknya investor ke aset-aset berisiko.

Menurut Aldo, Indonesia memang tidak berada di spotlight yang diincar oleh investor global karena konsensus ekspektasi pertumbuhan Indonesia relatif rendah di kisaran 5,1%—5,2%, “tetapi paling tidak, apabila terjadi shift of expectation bahwa investor mulai masuk ke emerging market, harusnya Indonesia juga mendapatkan keuntungan,” imbuhnya.

Selain itu, kekuatan investor domestik juga dinilai memengaruhi kekuatan IHSG kali ini setelah terkena aksi jual pada tahun lalu. Namun demikian, indeks yang kini sudah reli, cenderung rentan terkena aksi ambil untung.

Aldo membangindkan, pada periode-periode sebelumnya ketika Indonesia sempat mengalami volatilitas pada 2013 dan 2015, dana asing tercatat keluar sekitar Rp40 triliun dan membuat indeks anjlok 15%.

“Namun, tahun 2018, dana asing keluar Rp120 triliun tapi indeks turun sekitar 11%—15%. jadi ini bukti bahwa investor lokal semakin berperan,” katanya.

Adapun beberapa investor asing yang mulai kembali ke Indonesia saat ini masih berupa dana pasif yang ditransaksikan lewat ETF. Dengan demikian, Aldo menilai, masih ada peluang untuk menarik inevstor asing masuk kembali ke Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top