MNC Sekuritas: Peluang Kenaikan Harga SUN Masih Terbuka Hari Ini

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (13/2/2019).
Emanuel B. Caesario | 13 Februari 2019 09:21 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih akan bergerak bervariasi dengan masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (13/2/2019).
 
Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan peluang kenaikan harga didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat optimisme para pelaku pasar terhadap pertemuan AS-China di Beijing pada 14-15 Februari 2019.
 
Selain itu, suksesnya lelang penjualan SUN pada perdagangan kemarin menjadi indikasi bahwa pelaku pasar masih memberikan respons positif pada kondisi pasar saat ini.
 
Dengan kondisi tersebut, investor disarankan tetap mencermati arah pergerakan harga SUN.
 
"Kami merekomendasikan kepada investor untuk melakukan strategi trading di tengah pergerakan harga SUN yang cenderung bergerak berfluktuasi dengan fokus kepada pergerakan nilai tukar rupiah," paparnya dalam riset harian, Rabu (13/2). 
 
Adapun seri-seri yang menarik pada kondisi tersebut di antaranya adalah FR0070, FR0069, FR0076, FR0073, FR0074, FR0056, dan FR0067.
 
Pada perdagangan Selasa (12/2), harga SUN bergerak dengan kecenderungan turun di tengah defisit neraca berjalan kuartal IV/2018 serta nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Perubahan harga SUN mencapai 331 bps dengan rata-rata penurunan sebesar 25 bps, yang mendorong perubahan tingkat imbal hasil hingga 40 bps. 
 
Untuk SUN seri acuan, sebagian besar serinya mengalami perubahan harga antara 12-26 bps yang mengakibatkan adanya perubahan yield sebesar 2,2 bps. 
 
SUN jangka pendek dengan tenor di bawah 5 tahun mengalami penurunan harga rata-rata 7,4 bps, yang menyebabkan terjadinya perubahan imbal hasil antara 3,3-7 bps. Sementara itu, SUN bertenor 5-7 tahun mengalami perubahan harga hingga 14 bps, yang mendorong kenaikan yield rata-rata sebesar 0,6 bps. 
 
Adapun untuk SUN dengan tenor panjang, di atas 7 tahun, koreksi harga terjadi hingga 331 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 40 bps.
 
Pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan menguatnya dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia, didorong oleh kekhawatiran investor akibat tidak tercapainya kesepakatan perjanjian dagang AS-China di tengah batas waktu yang akan segera berakhir pada awal Maret 2019. 
 
Namun, meskipun harga SUN menunjukan arah pergerakan yang negatif, tetapi investor cukup aktif melakukan transaksi di pasar sekunder. Hal ini tercermin pada volume perdagangan yang cukup besar dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. 
 
Sementara itu, dari hasil lelang SUN yang digelar Selasa (12/2), pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp25 triliun dari total penawaran yang masuk mencapai Rp66,35 triliun. Total penawaran tersebut merupakan jumlah penawaran terbesar sejak lebih dari setahun terakhir.
 
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil juga terlihat pada perdagangan seluruh seri SUN berdenominasi dolar AS di tengah penguatan imbal hasil US Treasury. 

Imbal hasil INDO24 dan INDO29 masing-masing naik 4,4 bps ke level 3,885% dan 1 bps ke level 4,182%, didorong terjadinya penurunan harga sebesar 21 bps dan 8,4 bps. 
 
Adapun imbal hasil INDO44 dan INDO49 masing-masing naik 1,9 bps ke level 4,995% dan 1 bps ke level 4,928%, setelah mengalami koreksi harga sebesar 32,5 bps dan 17,6 bps.
 
Volume perdagangan SUN yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mengalami peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp28,98 triliun dari 39 seri yang diperdagangkan. 
 
Hal tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup aktif melakukan transaksi perdagangan. SUN seri FR0078 menjadi seri dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp9,29 triliun dari 115 kali transaksi di harga rata-rata 101,63%.

Ddiikuti Obligasi Negara seri FR0077, dengan nilai Rp6,13 triliun dari 93 kali transaksi di harga rata-rata 102,13%.
 
Sementara itu, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan lebih kecil daripada volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp783,35 miliar dari 37 seri yang diperdagangkan. 
 
Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank IV Tahap III Tahun 2018 Seri A (BEXI04ACN3) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp150 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata 100,33%. Diikuti Obligasi Berkelanjutan I Bank Mandiri Tahap III Tahun 2018 (BMRI01CN3), dengan nilai Rp143,7 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata-rata 100,25%.
 
Di sisi rupiah, mata uang Garuda kembali mengalami pelemahan sebesar 31 pts (0,22%) di level Rp14.069 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring pergerakan nilai tukar mata uang regional yang bergerak bervariatif terhadap dolar AS.
 
Rupee India (INR) mengalami penguatan tertinggi sebesar 0,59%, disusul renminbi China (CNY) yang menguat 0,25%. Sebaliknya, pelemahan terdalam terjadi pada rupiah Indonesia (IDR) sebesar 0,22%, diikuti yen Jepang (JPY) yang mengalami koreksi 0,15%. 
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami penguatan sebesar 129 bps ke level 2,69%. Hal yang sama juga terjadi pada US Treasury bertenor 30 tahun yang mengalami penguatan sebesar 109 bps ke level 3,02%.

Kondisi ini terjadi di tengah menguatnya pasar saham AS. Indeks DJIA ditutup menguat 149 bps ke level 25425,76, sedangkan indeks NASDAQ naik 146 bps ke level 7414,62. 
 
Sementara itu, pasar obligasi Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun mengalami pelemahan ke level 1,184%. Sebaliknya, obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun mengalami kenaikan terbatas ke level 0,132%.

Adapun obligasi Inggris (Gilt) dan obligasi Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun masing-masing naik ke level 1,689% dan 0,755%
 

Tag : surat utang negara, perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top