IHSG Ditutup Loyo Lima Hari Beruntun, Analis Tetap Optimistis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan reboundnya dan berakhir terkoreksi di zona merah pada akhir perdagangan hari kelima beruntun, Rabu (13/2/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  17:42 WIB
IHSG Ditutup Loyo Lima Hari Beruntun, Analis Tetap Optimistis
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan rebound-nya dan berakhir terkoreksi di zona merah pada akhir perdagangan hari kelima beruntun, Rabu (13/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup turun 0,11% atau 7,21 poin di level 6.419,12 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (12/2), IHSG berakhir di level 6.426,32 dengan pelemahan 1,06% atau 68,68 poin.

Indeks sempat rebound dari pelemahannya ketika dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,29% atau 18,85 poin di level 6.445,18 pagi tadi. 

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.398,89 – 6.456,57. Level penutupan yang disentuh hari ini adalah yang terendah sejak 16 Januari.

Tiga dari sembilan sektor dalam IHSG berakhir di teritori negatif, dipimpin sektor finansial yang melemah 0,87%. Enam sektor lainnya mampu berakhir di zona positif, dipimpin industri dasar dan tambang yang masing-masing naik 1,49% dan 1,07%.

Dari 627 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 218 saham menguat, 208 saham melemah, dan 201 saham stagnan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 2,36% dan 1,56% menjadi penekan utama atas berlanjutnya pelemahan IHSG.

Di sisi lain, saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang masing-masing naik 2,23% dan 3,24% menjadi pendorong sekaligus membatasi besarnya koreksi IHSG hari ini.

Aksi jual bersih oleh investor asing pun berlanjut pada perdagangan hari ke-4 berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,38 triliun pada perdagangan hari ini.

Dilansir dari Bloomberg, penurunan rekomendasi atas pasar saham Indonesia oleh Credit Suisse sedikit banyak dinilai telah berkontribusi terhadap pelemahan IHSG.

Perusahaan sekuritas global Credit Suisse pekan ini menurunkan rekomendasi terhadap pasar saham Indonesia menjadi 10% underweight dari sebelumnya 20% overweight.

“Kami sekarang melihat peluang untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset Indonesia sebelum pasar memasuki fase underperfomance,” tulis analis Credit Suisse yang dipimpin oleh Alexander Redman dalam risetnya tertanggal 11 Februari.

Beberapa pertimbangan tim riset Credit Suisse di antaranya adalah pasar saham dan rupiah yang sudah jenuh beli (overbought), tekanan likuiditas, dan pertumbuhan ekonomi yang tergantung pada revisi penurunan target.

Namun, sejumlah analis menyampaikan pandangan yang optimistis atas saham Indonesia. John Rachmat, pakar strategi PT Pinnacle Persada Investama, justru memaparkan sejumlah faktor yang akan menjaga permintaan untuk aset-aset Indonesia.

Beberapa di antara faktor tersebut adalah harga minyak yang lebih rendah, yang akan mengurangi tekanan pada transaksi berjalan, inflasi yang mereda, ditambah dengan sikap bank sentral AS Federal Reserve untuk bersabar soal kenaikan suku bunga.

Senada dengan John, Herman Koeswanto, kepala riset di PT Ashmore Asset Management Indonesia, melihat beberapa alasan mempertahankan pandangan yang lebih optimistis pada pasar saham Indonesia meskipun juga tetap berhati-hati.

“Kami tetap berpandangan bullish mengenai [saham] Indonesia karena negara ini berada di jalur yang tepat menuju industrialisasi, yang akan membantu memilah masalah defisit transaksi berjalan dalam jangka panjang,” ujar Herman.

Namun ia juga mengingatkan akan adanya beberapa peristiwa pada Maret mendatang, di antaranya negosiasi Brexit dan hasil perundingan perdagangan AS-China, yang dapat menyebabkan ketidakpastian di pasar.

Bersama IHSG, indeks Bisnis-27 melanjutkan pelemahannya pada hari kelima dengan berakhir turun 0,69% atau 3,88 poin di level 561,37, setelah ditutup melorot 1,26% atau 7,19 poin di posisi 565,25 pada perdagangan Selasa (12/2).

Sebaliknya, mayoritas indeks saham di Asia berakhir menguat hari ini. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup menguat 1,06% dan 1,34%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan berakhir naik 0,50%.

Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China menguat masing-masing sebesar 1,84% dan 2%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong ditutup menanjak 1,16%.

Secara keseluruhan, bursa Asia mendapatkan dorongan dari optimisme seputar progres perundingan perdagangan Amerika Serikat-China setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan terbukanya peluang untuk memperpanjang batas waktu yang ditetapkan untuk penaikan tarif.

Trump membuka kemungkinan memperpanjang batas waktu pada 1 Maret yang ditetapkan untuk meningkatkan tarif terhadap impor senilai US$200 miliar asal China menjadi 25% dari 10%.

Kemungkinan itu dikatakannya terbuka jika perundingan perdagangan antara kedua negara yang berlangsung pekan ini membuat progres.

“Jika kita [AS-China] membuat progres menuju kesepakatan yang dapat mewujudkan kesepakatan nyata berikut penyelesaiannya, saya bisa saja menunda penerapan [kenaikan tarif] untuk sementara waktu,” kata Trump kepada awak media saat menggelar rapat kabinet pada Selasa (12/2/2019) waktu setempat.

Komentar terbaru dari Trump menjadi indikasi terkuat bahwa ia bersedia memberi lebih banyak waktu kepada China untuk mencapai resolusi guna menghindari konflik perdagangan yang telah memengaruhi ekonomi global.

Perpanjangan tenggat waktu dapat membuka jalan bagi potensi pertemuan Trump dengan Presiden Xi Jinping guna menuntaskan kesepakatan.

“Secercah harapan saat Presiden AS Trump mengisyaratkan dapat menunda batas waktu penaikan tarif 1 Maret untuk sementara waktu telah cukup untuk mengangkat pasar keuangan,” kata analis OCBC dalam sebuah riset, sebagaimana dikutip Reuters.

Saham-saham penekan IHSG:                   

Kode

(%)

BMRI

-2,36

BBRI

-1,56

BBCA

-0,73

HMSP

-1,06

BBNI

-2,81

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

GGRM

+2,23

TPIA

+3,24

BYAN

+5,00

PNBN

+7,94

SMGR

+3,05

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top