Rupiah Melemah, IHSG Turun Lebih dari 1% pada Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 1,05% atau 63,33 poin ke level 6.426,67 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho | 12 Februari 2019 13:03 WIB
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1% pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (12/2/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 1,05% atau 63,33 poin ke level 6.426,67 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG dibuka rebound dengan penguatan 0,12% atau 8,05 poin ke level 6.503,05, setelah pada perdagangan Senin (11/2), IHSG ditutup melemah 0,41% atau 26,66 poin di posisi 6.495.

Sepanjang perdagangan siang ini, IHSG bergerak di level 6.424,75 – 6.513,10. Sebanyak 99 saham menguat, 280 saham melemah, dan 248 saham stagnan dari 627 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing melemah 3,44% dan 2,54% menjadi penekan utama pergerakan IHSG siang ini.

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor aneka industri yang melemah 2,85%, disusul sektor infrastruktur dan pertanian yang masing-masing melemah 2,64 dan 1,91%.

Di sisi lain, hanya sektor konsumer yang melemah 0,4% dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut di sesi I hari ini.

IHSG melemah bersama dengan nilai tukar rupiah yang juga terseret ke zona merah siang ini. Rupiah terpantau melemah 48 poin atau 0,34% ke level Rp14.082 per dolar AS pada pukul 11.05 WIB.

Pada perdagangan Senin (11/2), rupiah ditutup melemah 79 poin atau 0,57% di level Rp14.034 per dolar AS. Rupiah mulai melemah ketika dibuka terdepresiasi 33 poin atau 0,46% di posisi 13.080 per dolar AS pagi ini.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.075-Rp14.098 per dolar AS.

Rupiah melemah di antara mata uang emerging market di Asia setelah Bank Indonesia mengatakan rupiah masih berada di bawah tekanan dari risiko perang perdagangan AS-China.

Mata uang diperdagangkan beragam karena investor menunggu hasil putaran pembicaraan perdagangan terbaru antara AS-China. Pemerintahan Trump mengatakan presiden AS masih ingin bertemu dengan Xi Jinping China dalam upaya untuk mengakhiri perang dagang, ketika tenggat waktu 1 Maret semakin dekat.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Waluyo mengatakan BI tidak akan berkompromi pada stabilitas ekonomi dengan rupiah yang masih terlihat di bawah tekanan dari risiko perang perdagangan AS-China.

Chief Executive Officer FPG Securities Co., Koji Fukaya mengatakan meskipun penguatan dolar AS menempatkan tekanan di keseluruhan mata uang Asia, sentimen fundamental tidak selalu negatif karena Federal Reserve bersikap dovish.

“Pelemahan mata uang diperkirakan akan terbatas karena investor global menuangkan uang ke pasar negara berkembang dan tren ini diperkirakan tetap bertahan,” katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Indeks saham lainnya di kawasan Asia cenderung variatif siang ini, di antaranya indeks FTSE Straits Time Singapura yang melemah 0,06%, indeks Hang Seng yang turun 0,02%, sedangkan indeks Topix menguat 2,13%.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top