Rupiah Kembali ke Level Rp14.000

Setelah bersusah payah menembus level psikologis Rp13.000 per dolar Amerika Serikat, pergerakan mata uang garuda harus menerima nasib kembali berada di level Rp14.000 per dolar AS.
Finna U. Ulfah | 11 Februari 2019 21:47 WIB
Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah bersusah payah menembus level psikologis Rp13.000 per dolar Amerika Serikat, pergerakan mata uang garuda harus menerima nasib kembali berada di level Rp14.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (11/2/2019), rupiah ditutup melemah 0,563% atau turun 79 poin menjadi Rp14.034 per dolar AS.

Mengutip riset harian Asia Tradepoint Futures, terdepresiasinya nilai tukar mata uang rupiah di hadapan dolar AS pada perdagangan Senin pekan ini di sebabkan oleh melebarnya defisit neraca berjalan yang tercatat pada kuartal IV sebesar 3.57% dari PDB.

“Defisit tersebut menjadi defisit terdalam sejak kuartal II/2014,” tulis Asia Tradepoint Futures seperti dikutip dari risetnya, Senin (13/2/2019).

Selain itu, tekanan bagi rupiah juga datang dari ketidakpastian proses dagang antara AS dengan China di mana pada Jumat pekan lalu (8/2/2019), penasehat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sempat mengatakan bahwa AS dan China masih jauh untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

Walaupun demikian, Kepala Periset Australia & New Zealand Banking Group Khoon Goh mengatakan mayoritas nilai tukar mata uang asia saat ini memang tengah melemah seiring dengan ketidakpastian terkait dengan perundingan perdagangan AS dan China akan melewati batas waktu atau tidak yaitu pada 1 Maret 2019.

AS dan China dijadwalkan akan kembali melanjutkan perundingan dagang pada 14 hingga 15 Februari 2019 di Beijing.

Selain itu, pada pekan ini rupiah akan dibayangi sentimen atas rilisnya beberapa data penting baik dari AS maupun dari dalam negeri.

Pada pekan ini, negeri paman sam akan merilis data inflasi dan penjualan ritel Januari 2018. Inflasi tahunan AS bulan Januari diperkirakan kembali turun ke 1.5% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 1.9%.

Data inflasi yang melebihi ekspetasi pasar akan menjadi katalis positif lain untuk melanjutkan reli penguatan dolar AS yang sebelumnya dapat berbalik menguat akibat data Non Farm Payroll Januari sangat solid, sehingga melukai rupiah.

Sementara itu, dari dalam negeri rupiah akan dibayangi sentimen data yang akan dirilis pada pekan ini terkait dengan neraca perdagangan Januari. Pasar memprediksi defisit neraca perdagangan Indonesia akan membengkak ke US$1,5 milliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang defisit US$1,1 milliar.

Tag : Rupiah
Editor : Gajah Kusumo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top