Dharma Satya (DSNG) Genjot Produksi CPO

Emiten perkebunan, PT Dharma Satya Nusantara Tbk. memproyeksikan produksi minyak kelapa sawit atau CPO bakal naik menjadi 26% hingga akhir 2019, setelah mengakuisisi dua perusahaan kebun.
Novita Sari Simamora | 09 Februari 2019 03:13 WIB
Komisaris PT Dharma Satya Nusantara Tbk Toddy M. Sugoto (dari kiri) bersama Komisaris Arini S Subianto, dan Direktur Utama Andrianto Oetomo, mendengarkan pembicaraan Komisaris Arif P S Rachmat, sebelum rapat umum pemegang saham luar biasa perseroan, di Jakarta, Senin (10/12/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perkebunan, PT Dharma Satya Nusantara Tbk. memproyeksikan produksi minyak kelapa sawit atau CPO bakal naik menjadi 26% hingga akhir 2019, setelah mengakuisisi dua perusahaan kebun.

Pada 2018, emiten bersandi saham DSNG mencatatkan peningkatan produksi crude palm oil (CPO) mencapai 488.000 ton, atau naik hingga 21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Bila mengacu pada data tahun lalu, maka target kenaikan CPO perseroan hingga 26% bakal menjadi sekitar 614.880 ton hingga akhir 2019.

Sekretaris Perusahaan Dharma Satya Nusantara Paulina Suryanti mengungkapkan, perseroan memiliki 9 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 510 ton per jam, yang mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi CPO. Akan tetapi, perseroan berencana melakukan penambahan kapasitas sebesar 30 ton per jam, menjadi 540 ton per jam .

Baru-baru ini, DSNG mengakuisisi PT Bima Palma Nugraha (BPN) dan PT Bima Agri Sawit (BAS). Adapun aksi akuisisi tersebut telah rampung pada akhir tahun lalu. Dia mengungkapkan, kenaikan kapasitas menjadi 30 ton per jam akan dilakukan pada pabrik yang dimiliki BPN dan BAS.

"Akuisisi dua perusahaan, akan berkontribusi memberikan tambahan 14% dari total produksi," ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (8/2/2019).

Pada 2018, produksi tanda buah segar DSNG naik 20% year on year menjadi 1,85 juta ton pada 2018, dari posisi 2017 senilai 1,55 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi kebun inti mencapai 1,59 juta ton, atau naik sekitar 15% dibandingkan 2017.

Direktur Utama Perseroan, Andrianto Oetomo, sebelumnya, mengungkapkan kenaikan produksi TBS tersebut disebabkan oleh meningkatnya produktivitas kebun pada semester II/2018 dibandingkan semester I/2018 sebagai akibat dari yield recovery pasca dampak lanjutan El-Nino.

“Produksi TBS perseroan pada semester II/2018 naik cukup signifikan sebesar 65% dibandingkan pada semester I/2018 akibat produktivitas kebun di semester dua yang lebih tinggi dibandingkan semester pertama,” kata Andrianto.

Selain itu, produksi palm kernel (PK) emiten bersandi saham DSNG pada 2018 naik 26% menjadi 82.000 ton dan palm kernel oil (PKO) naik 21% menjadi 29.000 ton. DSNG juga mempertahankan tingkat ekstraksi minyak sawit (oil extraction rate/OER) menjadi 23,59%, naik 3% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan level free fatty acid (FFA) sebesar 2,77%.

Meskipun perseroan membukukan kenaikan produksi, volume penjualan CPO pada 2018 malah turun tipis sekitar 0,7% menjadi 455.000 ton, dengan harga penjualan rata-rata juga turun sekitar 12% menjadi Rp7,2 juta per ton.

“Penurunan volume penjualan tersebut disebabkan karena adanya kongesti pada kapal pengangkut CPO sejak pertengahan tahun 2018 sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan kapal yang akhirnya menghambat penjualan,” kata Andrianto.

Sampai akhir Desember 2018, jumlah lahan tertanam DSNG mencapai 108.410 hektare, dengan lahan tertanam kebun inti mencapai 84.393 hektare. Kenaikan jumlah lahan tertanam tersebut disebabkan oleh bertambahnya areal kebun setelah perseroan melakukan pengambilalihan perusahaan perkebunan Bima Palma Group di Kalimantan Timur pada tanggal 12 Desember 2018 silam.

Dari jumlah tersebut, total kebun yang sudah menghasilkan sekitar 96.118 hektar, dengan usia rata-rata 9,3 tahun. Adapun kinerja operasional segmen usaha produk kayu DSNG pada 2018, berhasil memproduksi panel sebesar 84.000 m3, naik sekitar 19% year on year, dengan harga penjualan rata-rata panel juga naik sekitar 15% menjadi Rp6,1 juta per m3.

Sementara itu, produksi engineered flooring turun sekitar 13% menjadi 1,1 juta m2. Di sisi lain, harga rata-rata engineered flooring naik sekitar 7% menjadi Rp420.000 per m2.

Tag : kinerja emiten
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top