Data Ekonomi Positif, Rupiah Jadi yang Terkuat di Asia

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 42 poin atau 0,3% ke level Rp13.920 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (6/2/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho | 06 Februari 2019 17:07 WIB
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah mampu rebound terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kembali menunjukkan tarifnnya di antara mata uang di Asia lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 42 poin atau 0,3% ke level Rp13.920 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (6/2/2019).

Nilai tukar rupiah mulai rebound terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ketika dibuka terapresiasi 17 poin atau 0,12% di posisi Rp13.945 per dolar AS dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (4/2/), nilai tukar rupiah ditutup terdepresiasi 14 poin atau 0,1% di posisi Rp13.962 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,087 poin atau 0,09% ke level 96,154 pada pukul 16.42 WIB.

Indeks dolar sempat bergerak di zona merah ketika dibuka turun tipis 0,01% atau 0,007 poin di level 96,060 pagi ini. Pada perdagangan Selasa (5/2), indeks berakhir menguat 0,215 poin atau 0,22% di level 96,067.

Rupiah menjadi yang terkuat di antara mata uang lainnya di Asia yang cenderung variatif, bersama dengan yen Jepang yang juga menguat 0,3% pada pukul 16.26 WIB. Di sisi lain, dolar Singapura melemah paling tajam sebesar 0,16%.

Data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 yang positif turut mendorong penguatan rupiah hari ini.

Badan Pusat Statistik ( BPS) melaporkan PDB selama 2018 mencapai 5,17% atau meningkat dibandingkan dengan 5,07% pada tahun sebelumnya.    Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka ini menunjukkan tren yang sangat bagus dan terbaik sejak 2014 di tengah kondisi global saat ini.   Selain itu, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,18% pada kuartal IV/2018, lebih tinggi dibandingkan kuartal III/2018 yang sebesar 5,17%.

“Ke depan, kita berharap banyak kebijakan sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih bagus,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS hari ini.

Ekonom di Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan data pertumbuhan positif harus mendorong investor asing dan mendukung saham dan mata uang  rupiah.

Sementara itu, ekonom PT Bank Danamon, Dian Ayu Yustina mengatakan data ekonomi yang baik menandakan bahwa permintaan domestik masih bagus.

“Kami memperkirakan tren akan berlanjut tahun ini, terutama pada konsumsi swasta dan pemerintah. Pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan dapat memberikan bantuan bagi bank sentral dan lebih fokus pada defisit transaksi berjalan dan rupiah," uangkap Dian, seperti dikutip Bloomberg.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top