MNC Sekuritas: Kesepakatan Damai China-AS Jadi Sentimen Positif SUN

MNC Sekuritas memperkirakan Surat Utang Negara masih akan berpotensi mengalami kenaikan pada perdagangan Senin (4/2/2019), didukung oleh faktor sentimen positif kesepakatan damai perdagangan antara China-AS.
Emanuel B. Caesario | 04 Februari 2019 10:50 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan Surat Utang Negara masih akan berpotensi mengalami kenaikan pada perdagangan Senin (4/2/2019), didukung oleh faktor sentimen positif kesepakatan damai perdagangan antara China-AS.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan bahwa di samping itu, pasar juga masih hangat dengan pernyataan The Fed pada pekan lalu yang bersikap sabar (dovish) dalam menentukan kenaikan suku bunga ke depan, sehingga pada periode ini The Fed masih menahan suku bunga acuannya di kisaran 2,25%-2,5%.

"Dengan beberapa faktor tersebut, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga SUN di pasar sekunder. Arah pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga SUN di pasar sekunder," paparnya dalam riset harian, Senin (4/2).

Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati di antaranya adalah sebagai berikut ini FR0070, FR0075, FR0061, FR0069, FR0053, dan FR0056.

Pada perdagangan Jumat (1/2), harga SUN mengalami kenaikan seiring dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Perubahan harga yang terjadi rata-rata sebesar 73 bps, sehingga mendorong penurunan tingkat imbal hasil rata-rata sebesar 10 bps.

Harga SUN tenor pendek 1-4 tahun mengalami kenaikan 37 bps, yang menyebabkan yield turun 10 bps. Sementara itu, SUN tenor 5-7 tahun mengalami perubahan harga rata-rata sebesar 30 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil hingga 18 bps.

Untuk harga SUN bertenor di atas 7 tahun, terjadi kenaikan harga rata-rata 94 bps yang mengakibatkan terjadinya perubahan yield sebesar 32 bps.

Kenaikan harga juga berdampak terhadap perubahan imbal hasil SUN seri acuan. Kenaikan harga terbesar terjadi di seri acuan bertenor 15 tahun, yaitu sebesar 280 bps, yang mendorong penurunan imbal hasil sebesar 33 bps.

Untuk SUN seri acuan bertenor 5 tahun, imbal hasilnya turun 7 bps yang didorong oleh kenaikan harga sebesar 32 bps. Sementara itu, SUN bertenor 10 tahun mengalami penurunan yield sebesar 11 bps yang disebabkan oleh perubahan harga sebesar 80 bps.

Untuk SUN tenor 20 tahun, terjadi penurunan yield sebesar 19 bps di tengah meningkatnya perubahan harga hingga mencapai 182 bps.

Terbatasnya pergerakan imbal hasil SUN pada perdagangan akhir pekan lalu dipengaruhi oleh faktor pergerakan nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka dengan menguat, tetapi di tengah sesi perdagangan mengalami pelemahan sebelum kembali menunjukkan penguatan sebelum ditutup.

Selain itu, faktor sentimen positif kesepakatan damai perdagangan China-AS juga mendorong penguatan harga obligasi negara di tengah kebijakan The Fed.

Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga SUN berdenominasi dolar AS terlihat mengalami perubahan positif di tengah menguatnya imbal hasil US Treasury.

Imbal hasil INDO24 mengalami penurunan sebesar 4 bps ke level 3,722% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 18 bps. Selanjutnya, imbal hasil INDO29 terlihat turun 6 bps ke level 4,074% setelah mengalami kenaikan harga 53 bps.

Sementara itu, INDO44 dan INDO49 menunjukkan perubahan imbal hasil masing-masing 1,6 bps ke level 4,931% dan 0,14 bps ke level 4,841%. Perubahan ini disebabkan oleh pergerakan harga yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 26 bps dan 2,4 bps.

Volume perdagangan SUN yang dilaporkan pada perdagangan akhir pekan lalu senilai Rp21,25 triliun dari 46 seri yang ditransaksikan.

Volume perdagangan tertinggi didapati pada SUN seri acuan yaitu, FR0078, dengan nilai Rp4,5 triliun dari 144 kali transaksi. Diikuti seri FR0077 dengan nilai Rp2,79 triliun untuk 98 kali transaksi.

Sementara itu, volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan lebih besar daripada volume perdagangan sebelumnya, mencapai Rp1,349 triliun dari 43 seri yang ditransaksikan.

Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2018 (TBIG03CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan paling besar, yakni Rp200 miliar dari 2 kali transaksi. Diikuti Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank II Tahap V Tahun 2015 Seri C (BEXI02CCN5) senilai Rp180 miliar dari 3 kali transaksi.

Sementara itu, rupiah menguat 28 pts (0,20%) ke level Rp13.945 per dolar AS pada Jumat (1/2). Penguatan terjadi di tengah koreksi mata uang regional terhadap dolar AS.

Rupiah memimpin penguatan mata uang regional, diikuti yen Jepang (JPY) sebesar 0,01%. Sebaliknya, pelemahan terdalam didapati pada won Korea Selatan (KRW) dan renminbi China, masing-masing sebesar 0,56% dan 0,52%.

Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun ditutup menguat 5 bps ke level 2,684%, sedangkan tenor 30 tahun ditutup menguat 2 bps ke level 3,025%. Pergerakan ini terjadi di tengah kondisi pasar saham AS yang bergerak bervariatif.

Indeks DJIA ditutup menguat 26 bps ke level 25063,89 dan indeks NASDAQ ditutup terkoreksi 25 bps ke level 7263,87.

Sementara itu, pasar obligasi Inggris (Gilt) dan pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun mengalami arah pergerakan yang positif, sehingga masing-masing berada pada level 1,251% dan 0,167%.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top