Perkebunan Hoki Menurut Feng Shui. Sayang, Fundamental Saham Sawit Masih Kelam

Konsultan Feng Shui Dian Setyawan menilai pada tahun ini menilai sektor perkebunan dan migas berprospek cukup baik. Namun, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan memperkirakan sebaliknya.
Dwi Nicken Tari | 04 Februari 2019 10:27 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA—Analis menilai saham-saham di sektor perkebunan dan migas masih belum menarik pada tahun ini, terbebani oleh melemahnya harga komoditas.

Sebelumnya, Konsultan Feng Shui Dian Setyawan menilai pada tahun ini menilai sektor perkebunan dan migas berprospek cukup baik. Namun, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan memperkirakan sebaliknya.

Alfred memaparkan faktor penekan untuk sektor perkebunan pada tahun ini datang dari harga komoditas minyak sawit (CPO) yang masih rendah.  Pekan lalu, harga CPO kontrak April 2019 di Bursa Malaysia Derivatif (MDE) masih melemah di kisaran 2.200 ringgit per ton.

“Faktor harga CPO yang masih rendah membuat kami melihat pertumbuhan emiten CPO tidak akan cukup besar juga untuk tahun ini,” kata Alfred ketika dihubungi, Minggu (3/2/2019).

Hal yang sama juga berlaku untuk sektor migas, di mana harga minyak dimulai di level rendah, rentang US$50—US$60 per barel, pada awal tahun ini. Alfred pun pesimistis tahun ini harga minyak tidak akan mendekati level tingginya di level US$80 per barel seperti tahun lalu.

Di sisi lain, Alfred turut mengamini bahwa saham di sektor pertambangan dan properti memang belum menarik dikoleksi pada tahun babi kayu ini--sama seperti penilaian fengshui.

Menurutnya, sektor pertambangan dan properti dari sisi fundamental pada tahun ini kemungkinan ada pertumbuhan tapi tidak terlalu besar.

“Dari sisi fundamentalnya ya pasti tumbuh. Tapi, pertumbuhannya tidak besar sehingga terlihat tambang dan properti masih belum cukup menarik dari sisi analisis fundamental,” tuturnya.

Adapun, volume produksi di setiap pertambangan diperkirakan memiliki potensi untuk tumbuh. Namun, pertumbuhan itu tidak diikuti oleh penguatan harga komoditas yang menyebabkan pertumbuhan pendapatan dan laba tidak akan menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Bahkan, Alfred menegaskan, ada pula potensi harga komoditas, seperti batu bara, akan turun pada tahun ini. Sehingga, penurunan harga komoditas yang diperdagangkan pun akan tercermin dalam pergerakan harga sahamnya.

Sementara untuk sektor properti, pada tahun ini dinilai tren harga sahamnya tidak akan terus menurun atau melanjutkan koreksi sejak 2017. “2018 itu adalah level yang paling bawah untuk properti,” imbuhnya.

Dengan begitu, pergerakan harga saham sektor properti pada tahun ini pun dinilai masih akan stagnan dengan pertumbuhan yang kecil.

Kendati demikian, yang membuat beberapa sektor di atas tadi tetap menarik justru datang dari aksi korporasi yang dilakukan perusahaan.

Alfred menyebut saham milik PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) tampak menarik karena valuasinya telah murah.

Adapun, BUMI sempat mengalami kerugian pada 2017. Namun, perseroan berhasil membukukan pendapatan pada 2018. Dalam laporan keuangan sesuai standar akutansi BEI, pendapatan BUMI selama periode Januari—September 2019 tercatat senilai US$824,9 juta, melonjak 4.650% yoy dari sebelumnya US$17,4 juta.

Sementara itu, laba bersih secara konsolidasi penuh pada periode yang sama mencapai US$205,3 juta. Nilai itu terkoreksi 22% yoy dari posisi per kuartal III/2017 sebesar US$263,8 juta. Pencatatan nilai laba bersih ini sama dengan laporan keuangan yang dipublikasikan di BEI.

Alfred pun menilai potensi up-side untuk BUMI masih besar ditopang oleh faktor pemulihannya (recovery) tersebut. “Bukan karena faktor sektornya. Saham-saham itu mengalami recovery setelah tertekan cukup dalam,” katanya.

Tag : minyak sawit, rekomendasi saham, harga cpo
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top