Rupiah Paling Perkasa di Asia Dua Hari Beruntun, Ini Penyebabnya

Rupiah berhasil melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan lagi-lagi menunjukkan tajinya di antara mata uang di Asia.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 01 Februari 2019  |  17:53 WIB
Rupiah Paling Perkasa di Asia Dua Hari Beruntun, Ini Penyebabnya
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah berhasil melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan lagi-lagi menunjukkan tajinya di antara mata uang di Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, di pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (1/2/2019), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 25 poin atau 0,18% di level Rp13.948 per dolar AS, dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (31/1), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu rebound dan menguat tajam 158 poin atau 1,12% di level Rp13.973 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berlanjut ketika dibuka terapresiasi 28 poin atau 0,20% di level Rp13.945 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp13.945 – Rp13.985 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,070 poin atau 0,07% ke level 95,508 pada pukul 17.09 WIB.

Pergerakan indeks sebelumnya dibuka turun tipis 0,019 poin atau 0,02% di level 95,559, setelah perdagangan Kamis (31/1) berakhir menguat 0,25% atau 0,238 poin di posisi 95,578.

Keperkasaan rupiah bertahan ketika mata uang lainnya di Asia justru tertekan terhadap dolar AS. Renminbi China dan won Korea Selatan yang masing-masing terdepresiasi 0,58% dan 0,56% memimpin pelemahan di antara mata uang Asia.

Realisasi inflasi Januari 2019 yang di bawah ekspektasi, yakni sebesar 0,32%, dipandang menjadi sentimen positif bagi penguatan rupiah hari ini.

Badan Pusat Statistik pagi tadi menyampaikan inflasi Januari 2019 adalah sebesar 0,32%, didorong oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Adapun tingkat inflasi tahunan tercatat sebesar 2,82%.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan hal ini dapat menjadi sentimen positif di tengah pelemahan yang dialami seluruh mata uang regional.

“Dengan tingkat inflasi Januari 2019 [year-on-year/yoy] sebesar 2,82% dan yield obligasi negara benchmark FR 78 sebesar 7,89% maka imbal hasil real obligasi negara 5,07%,” jelas Nanang Jumat (1/2).

Dari catatan BI, investor asing tetap masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) pada Jumat (1/2), sehingga yield obligasi negara turun dari 7,92% ke 7,89%.

Secara nominal, spread imbal hasil obligasi negara Indonesia yang sebesar 7,89% terhadap yield obligasi US Treasury yang sebesar 2,63%, adalah 526 bps. Ini lebih tinggi dari India yang mencapai 460 bps dan Filipina yang sebesar 374 bps.

Dari perkembangan ini, Nanang menegaskan BI terus mengawal perkembangan rupiah untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan investor global tetap tinggi. Upaya ini di antaranya dilakukan dengan memonitor proses pembicaraan dagang antara AS dan China.

Inflasi Indonesia yang rendah dan stabil beserta sikap The Fed yang pro pasar pun dinilai akan terus menjadi penopang rupiah untuk melanjutkan penguatannya.

Penguatan tajam rupiah pada perdagangan Kamis (31/1) telah didongkrak sikap bank sentral AS Federal Reserve untuk mempertahankan tingkat suku bunganya dan bersabar dalam hal penaikan biaya pinjaman lebih lanjut.

Dalam pertemuan kebijakan (FOMC meeting) selama dua hari yang berakhir pada Rabu (30/1/2019) waktu setempat, The Fed memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya di 2,25%-2,50%.

Merujuk pada meningkatnya ketidakpastian tentang prospek ekonomi AS, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan perkara soal penaikan suku bunga telah berkurang.

The Fed juga bergeser ke sikap yang lebih dovish terkait pelepasan aset yang sedang berlangsung, dengan menyatakan siap untuk menyesuaikan rencananya berdasarkan perkembangan ekonomi dan keuangan.

“Rupiah jelas mendapatkan manfaat dari pidato The Fed yang bernada dovish, yang dapat mendukung aliran masuk obligasi pada khususnya,” kata Dushyant Padmanabhan, pakar strategi mata uang di Nomura Holdings Inc., Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top