MNC Sekuritas: The Fed Pertahankan Suku Bunga, Harga SUN Berpeluang Naik

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (1/2/2019), setelah pengumuman suku bunga acuan Amerika Serikat yang tetap berada di level 2,25%-2,5%.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 01 Februari 2019  |  09:31 WIB
MNC Sekuritas: The Fed Pertahankan Suku Bunga, Harga SUN Berpeluang Naik
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (1/2/2019), setelah pengumuman suku bunga acuan Amerika Serikat yang tetap berada di level 2,25%-2,5%.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menyarankan kepada investor untuk mencermati arah pergerakan harga SUN di pasar sekunder setelah FOMC Meeting menetapkan suku bunga acuannya tetap berada di level 2,25%-2,5%. Dia mengatakan pergerakan harga SUN masih akan dipengaruhi oleh arah pergerakan nilai tukar rupiah.

"Beberapa seri yang kami lihat cukup menarik di tengah kondisi pasar saat ini, yaitu FR0057, FR0068, FR0068, FR0079, FR0053, dan FR0071," papar Made dalam riset harian, Jumat (1/2).

Pada perdagangan Kamis (31/1), harga SUN akhir Januari 2019 ditutup bergerak positif. Hal ini didorong oleh penguatan rupiah terhadap dolar AS dan hasil FOMC Meeting.

Kenaikan harga yang terjadi di sebagian besar seri SUN mencapai 125 bps, yang mendorong penurunan yield hingga 16 bps.

Sementara itu, SUN seri acuan bergerak naik pada beberapa seri, di antaranya seri acuan bertenor 5 tahun yang mengalami perubahan harga sebesar 59 bps dan mengakibatkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 14 bps ke level 7,824%. SUN tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan harga sebesar 92 bps yang mendorong terjadinya imbal hasil turun 13 bps ke level 7,997%.

Namun, SUN bertenor 15 tahun mengalami penurunan harga terbatas sebesar 2 bps, yang mendukung terjadinya kenaikan yield yang terbatas di bawah 1 bps ke level 8,476%.

Untuk SUN seri acuan bertenor 20 tahun, kenaikan harganya mencapai 78 bps yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil sebesar 8 bps ke level 8,462%.

Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin didorong oleh faktor internal dan eksternal. Dari internal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2018 cukup kuat yang mendapat dukungan dari konsumsi, investasi, dan pengeluaran pemerintah.

Selain itu, investor asing juga membeli 1,04 miliar saham Indonesia pada Rabu (30/1), yang menjadi volume pembelian terbesar sejak April 2015.

Dari eksternal, ada faktor berakhirnya FOMC Meeting yang menetapkan suku bunga acuannya tetap berada di level 2,25%-2,5%.

Harga SUN berdenominasi dolar AS mengalami kecenderungan penurunan di tengah harga US Treasury yang cenderung terkoreksi dan membaiknya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. Hal ini terjadi di semua seri.

Harga INDO24 mengalami kenaikan sebesar 52 bps yang mendorong yield turun 11 bps. Sementara itu, INDO29 dan INDO44 masing-masing mengalami kenaikan harga sebesar 110 bps dan 152 bps, yang membuat imbal hasil turun 13,2 bps dan 9,1 bps.

Adapun INDO49 mengalami perubahan harga tertinggi sebesar 166,2 bps, yang mengakibatkan menurunnya tingkat imbal hasil sebesar 10,1 bps.

Sementara itu, volume Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan mengalami kenaikan volume yang signifikan dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yaitu senilai Rp32,23 triliun dari 55 seri yang diperdagangkan.

Volume perdagangan terbesar didapati pada SBN seri FR0070, yakni senilai Rp5,595 triliun dari 47 kali transaksi. Diikuti seri FR0078 dan FR0077, masing-masing senilai Rp4,579 triliun dari 186 kali transaksi serta Rp4,101 triliun dari 139 kali transaksi.

Adapun Sukuk Negara perdagangan terbesar didapati terjadi di Project Based Sukuk seri PBS013, dengan nilai Rp398,71 miliar dari 8 kali transaksi. Diikuti Sukuk Negara Ritel seri SR008 dengan nilai Rp377,22 miliar dari 13 kali transaksi.

Sementara itu, volume obligasi korporasi yang dilaporkan mencapai Rp530,32 miliar dari 36 seri. Volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan II Bank Sulselbar Tahap I Tahun 2018 (BSSB02ACN1) dengan nilai Rp88 miliar dari 9 kali transaksi.

Diikuti Obligasi Berkelanjutan I Maybank Finance Tahap III Tahun 2016 (BIIF01BCN3), dengan nilai Rp40 miliar dari 4 kali transaksi.

Obligasi korporasi syariah, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance Tahap III Tahun 2019 Seri A (SMADMF03ACN3) menjadi sukuk korporasi dengan volume tertinggi, dengan nilai Rp26 miliar dari 1 kali transaksi di harga 100,7%.

Di sisi lain, rupiah ditutup menguat 158,50 pts (1,12%) pada level Rp13.972,5 per dolar AS pada Kamis (31/1), setelah FOMC Meeting memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan serta akan bersabar dalam menentukan kebijakan moneternya.

Penguatan ini terjadi di tengah penguatan sebagian besar nilai mata uang regional. Rupiah Indonesia (IDR) mengalami penguatan tertinggi di antara mata uang regional lainnya, disusul baht Thailand (THB) dan peso Filipina (PHP) masing-masing sebesar 0,5% dan 0,48%.

Adapun dollar Hongkong (HKD) dan rupee India (INR) mengalami pelemahan, masing-masing sebesar 0,04% dan 0,01%.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun ditutup melemah 180 bps ke level 2,63%, diikuti US Treasury tenor 30 tahun yang ditutup melemah di level 3,00%.

Pasar saham AS mengalami arah perubahan yang bervariasi, di mana indeks indeks DJIA terkoreksi 6 bps di level 24999,67 sedangkan indeks NASDAQ ditutup menguat 137 bps di level 7281,74.

Imbal hasil surat utang Inggris (GILT) bertenor 10 tahun menguat terbatas ke level 1,221%, sedangkan surat utang Jerman (BUND) bertenor 10 tahun mengalami arah pergerakan yang terkoreksi ke level 0,146%.

Pada Januari 2019, pasar SUN mencatatkan kinerja positif yang tercermin pada penurunan tingkat imbal hasil yang didorong oleh masuknya investor asing dari pasar SBN seiring dengan penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top