Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Asia Terseret Ketegangan Baru AS-China, IHSG Melemah di Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,13% atau 8,23 poin ke level 6.450,48 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 Januari 2019  |  13:33 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - Bisnis/Nurul Hidayat
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA –Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I hari ini, Selasa (29/1/2019), setelah berfluktuasi sepanjang perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,13% atau 8,23 poin ke level 6.450,48 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (28/1), IHSG ditutup melemah 0,37% atau 24,13 poin di level 6.458,71.

IHSG sebelumnya dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,07% atau 4,24 poin ke level 6.454,47 dan sempat berbalik menguat sebelum akhirnya kembali melemah. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.444,72 – 6.485,25.

Enam dari sembilan sektor menetap di zona merah, dengan pelemahan terdalam dialami sektor properti yang turun 1,11% dan industri dasar yang melemah 0,72%.

Di sisi lain, tiga sektor lainnya menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut, dipimpin oleh sektor konsumer yang naik 0,56%.

Sebanyak 146 saham menguat, 200 saham melemah, dan 281 saham stagnan dari 627 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing melemah 4,82% dan 1,05% menjadi penekan utama pelemahan IHSG siang ini.

Di sisi lain, saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNR) yang masing-masing menguat 1,08% dan 1,26% menjadi penopang utama sekaligus membatasi besarnya pelemahan IHSG siang ini.

Indeks saham lainnya di kawasan Asia bergerak mayoritas melemah siang ini, di antaranya indeks FTSE Straits Times Singapura yang turun 0,62%, indeks FTSE Malay KLCI melemah 0,46%, dan indeks indeks SE Thailand turun 0,35%.

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,16% dan 0,25%, indeks Shanghai Composite melemah 0,49%, dan indeks Hang Seng turun 0,19%. Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,11%.

Dilansir Reuters, bursa saham Asia melemah karena prospek untuk kesepakatan perdagangan China-AS yang lama ditunggu-tunggu mendapat pukulan setelah setelah Departemen Kehakiman AS mendakwa Huawei Technologies Co Ltd melakukan penipuan, meningkatkan ketegangan perdagangan AS-China.

AS pada hari Senin mendakwa Huawei, kepala keuangannya, dan dua afiliasinya atas tuduhan penipuan dan konspirasi sehubungan dengan kesepakatan di Iran.

Investor khawatir tuduhan itu dapat memperumit pembicaraan perdagangan tingkat tinggi yang akan dimulai pada hari Rabu ketika Wakil Perdana Menteri China Liu He akan bertemu dengan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer.

"Ada peluang yang jauh lebih kecil sekarang bahwa kita mendapatkan sesuatu yang positif dari negosiasi perdagangan ini," kata Nick Twidale, chief operating officer di Rakuten Securities, seperti dikutip Reuters.

Pada perdagangan kemarin, pasar mendapat pengingat tentang dampak ekonomi yang berpotensi merusak dari perang perdagangan China-AS ketika saham Wall Street dihantam oleh prospek penurunan laba.

Pelemahan terjadi ketika saham Caterpillar dan Nvidia Corp merosot setelah dua produsen ini bergabung dengan daftar perusahaan yang memperingatkan tentang efek pelemahan permintaan China.

Caterpillar jatuh lebih dari 9% untuk penurunan satu hari terburuk sejak Agustus 2011 sementara produsen chip Nvidia turun 13,8%.

"Kedua perusahaan dipandang sebagai pemimpin industri dan hasil mengecewakan mereka memberikan bukti lebih lanjut bahwa kali ini perlambatan China nyata," kata Rodrigo Catril, analis di National Australia Bank.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top