Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MNC Sekuritas: SUN Berpeluang Terdongkrak Faktor Eksternal

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis (24/1/2019), seiring dengan penurunan imbal hasil surat utang global.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  09:49 WIB
Direktur Surat Utang Negara (SUN) pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A
Direktur Surat Utang Negara (SUN) pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis (24/1/2019), seiring dengan penurunan imbal hasil surat utang global dan sejumlah faktor eksternal lainnya.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan penguatan juga didukung dolar AS yang melemah terhadap mata uang utama dunia, yang dipengaruhi oleh membaiknya indikator ekonomi di China.

Volume perdagangan juga diperkirakan masih belum begitu besar karena pelaku pasar akan cenderung berhati-hati melakukan transaksi, mencermati perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah dinamika perang dagang AS-China.

"Dengan harga SUN yang masih berpeluang untuk mengalami kenaikan, terutama pada tenor di atas 10 tahun, maka kami menyarankan kepada investor untuk mencermati beberapa SUN dan melakukan strategi trading untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga tersebut," papar Made dalam riset harian, Kamis (24/1).

Beberapa seri SUN yang perlu dicermati adalah FR0053, FR0056, FR0061, FR0070, FR0067, dan FR0068.

Pada perdagangan Rabu (23/1), hampir semua seri SUN mengalami kenaikan harga, di tengah faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan harga mencapai 45 bps, yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5 bps.

Harga SUN tenor pendek mengalami perubahan hingga 10 bps, yang menyebabkan terjadinya perubahan yield 3 bps. Sementara itu, kenaikan harga rata-rata 1,7 bps telah mendorong penurunan tingkat imbal hasil SUN tenor menengah sebesar 1,3 bps.

Untuk SUN tenor panjang, terjadi pergerakan harga yang bervariasi dengan perubahan hingga 45 bps. Hal ini mendorong terjadinya perubahan yield sebesar 4,6 bps.

Untuk SUN seri acuan, perubahan harga yang terjadi juga bervariasi. Untuk tenor 5 tahun, ada kenaikan 6 bps yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil sebesar 1,3 bps di level 7,948%.

Untuk tenor 10 tahun, harganya meningkat 14 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan yield sebesar 2,1 bps ke level 8,054%. Untuk seri acuan bertenor 15 tahun, harganya naik 13 bps sehingga menyebabkan penurunan imbal hasil sebesar 1,5 bps ke level 8,475%.

Adapun seri acuan bertenor 20 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 17 bps, sehingga tingkat imbal hasilnya relatif tidak banyak mengalami perubahan di level 8,506%.

Selain faktor rupiah, faktor eksternal juga mendorong kenaikan harga SUN pada perdagangan kemarin. Kementerian Keuangan China telah menegaskan komitmennya untuk menggelontorkan stimulus fiskal pada tahun ini, termasuk pemotongan tingkat pajak.

China juga memperbolehkan pemerintah daerah untuk menerbitkan obligasi khusus (special bond) sebesar 2 triliun yuan, yang sebelumnya digunakan untuk proyek-proyek strategis.

"Kami menilai kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah China tersebut dapat menahan perlambatan ekonomi China sehingga berdampak kepada perekonomian China dan perekonomian negara-negara di kawasan Asia," lanjut Made.

Adapun pergerakan harga SUN berdenominasi dolar AS masih menunjukkan tren kenaikan seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasury dan terus membaiknya persepsi risiko di tengah gejolak yang terjadi di pasar keuangan global.

Kenaikan harga terjadi pada hampir keseluruhan seri SUN. Kenaikan harga yang cukup besar didapati pada tenor di atas 15 tahun.

Harga INDO24 mengalami kenaikan 5 bps, yang mendorong turunnya yield sebesar 1,06 bps ke level 3,963%. Seri INDO29 mengalami kenaikan harga hingga 15 bps, yang menyebabkan penurunan imbal hasil sebesar 1,8 bps ke level 4,338%.

Sementara itu, INDO44 mengalami kenaikan harga sebesar 36,10 bps sehingga tingkat imbal hasilnya turun 2,2 bps ke level 5,082%

Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yakni senilai Rp7,63 triliun dari 39 seri SBN.

Adapun SBN seri acuan menduduki tiga besar dengan volume penjualan tertinggi.

Obligasi Negara seri FR0078 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,366 triliun dari 50 kali transaksi di harga rata-rata 101,39%. Diikuti seri FR0068 dengan nilai Rp1,134 triliun dari 34 kali transaksi di harga rata-rata 99,57%.

Untuk Sukuk Negara, seri dengan volume perdagangan terbesar didapati pada Sukuk Negara Ritel seri SR008 dengan nilai Rp133,62 miliar dari 12 kali transaksi di harga rata-rata 99,85%. Diikuti Project Based Sukuk seri PBS012, yang nilainya mencapai Rp58 miliar dari 14 kali transaksi di harga rata-rata 101,28%

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp653,59 miliar dari 38 seri obligasi korporasi yang ditransaksikan.

Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap III Tahun 2018 Seri (ADMF04CCN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp185 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata-rata 101,43%. Diikuti Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank Panin Tahap I Tahun 2012 (PNBN01SBCN1) senilai Rp60 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata-rata 100,85%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top