Rata-Rata Nilai Transaksi Harian Saham Tembus Rekor 10 Tahun

Rerata nilai transaksi saham harian selama pekan pertama pada 2019 mencatatkan rekor tertinggi selama 10 tahun terakhir secara tahunan, yakni mencapai Rp7,8 triliun.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 11 Januari 2019  |  07:18 WIB
Rata-Rata Nilai Transaksi Harian Saham Tembus Rekor 10 Tahun
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Rerata nilai transaksi saham harian selama pekan pertama pada 2019 mencatatkan rekor tertinggi selama 10 tahun terakhir secara tahunan, yakni mencapai Rp7,8 triliun.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi mengatakan bahwa selama 4 hari pertama pada tahun ini, rata-rata nilai transaksi saham harian menyentuh level tertinggi selama 10 tahun didorong oleh sejumlah sentimen positif dari global.

Selain itu, Hasan mengklaim bahwa adanya perubahan aturan T+3 menjadi T+2 yang diterapkan pada akhir tahun lalu menjadi salah satu pendorong tingginya rata-rata nilai transaksi harian awal tahun ini. Menurutnya, pasar saham Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga merupakan hal yang wajar bila nilai transaksi harian pada awal tahun ini menembus rekor baru.

“Tahun lalu [2018] kan awal tahunnya masih T+3, jadi pasti ada pengaruhnya karena sejak perubahan ke T+2 kapasitas transaksi harian dari para anggota bursa maupun investor jadi bertambah,” kata Hasan.

Hasan berharap target rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp9 triliun pada akhir tahun ini dapat tercapai. Pada akhir tahun lalu, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp8,5 triliun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), rata-rata nilai transaksi harian saham pada 4 hari pertama tahun ini senilai Rp7,8 triliun. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi selama satu dekade. Adapun, rerata transaksi harian pada 4 hari pertama 2009 tercatat Rp3,04 triliun.

Pada 2010, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp4,17 triliun. Kemudian, pada 2011 dan 2012 rerata nilai transaksi harian masing-masing tercatat Rp5,64 triliun dan Rp3,28 triliun.  Lalu, pada 2013 hingga 2016, rerata nilai transaksi harian pada periode serupa masing-masing tercatat Rp5,26 triliun, Rp3,29 triliun, Rp5,15 triliun, Rp4,90 triliun.

Sementara itu, pada perdagangan pekan pertama awal 2017 rata-rata transaksi harian senilai Rp5,26 triliun. Tahun lalu, rata-rata nilai transaksi harian berada pada level Rp6,68 triliun.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menjelaskan bahwa terjadinya peningkatan nilai transaksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Kebijakan The Fed yang menahan agresifitas untuk menaikkan suku bunga acuan dan ekspektasi pasar akan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan China menjadi pendorongnya.

“Ini memberikan persepsi positif kepada pelaku pasar,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (10/1).

Dia menilai, perubahan aturan T+3 menjadi T2 tidak berpengaruh besar terhadap peningkatan rata-rata nilai transaksi harian pada perdagangan pekan pertama 2019.“Itu hanya faktor pendukung lebih kepada untuk meningkatkan volume transaksi, tetapi kalau dilihat kenapa IHSG naik, tidak ada aturan itu [T+2] juga IHSG akan naik.”

Dia memprediksi transaksi akan terus menguat sampai dengan kuartal I/2019 karena didasari oleh sentimen-sentimen yang memberikan pengaruh positif kepada pelaku pasar pada awal tahun.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan bahwa sentimen global memberikan dampak positif terhadap perdagangan di pasar modal Indonesia. Selain itu, sejumlah paket kebijakan yang dibuat pemerintah berhasil memacu para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

“Pemerintah juga memberikan kebijakan yang mendorong yang bisa membeirkan stimulus agar sektor2 gersebut bisa berkembang. Seperti relaksasi RTF, keringanan pajak,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (10/1/2019).

Sementara itu, Vice President Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menganggap bahwa peningkatan rata-rata nilai transaksi harian pada awal tahun ini merupakan hal yang wajar terjadi. Menurutnya, perdagangan saham dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.

“Kalau ada peningkatan wajar juga karena setiap tahun kan transaksi meningkat yang dulunya sekitar Cuma Rp1 triliun–Rp2 triliun, sekarang Rp6 triliun—Rp7 triliun, jadi wajar saja bukan yang harus dikhawatirkan atau pergerakan yang aneh,” ujarnya.

Dia lebih menitikberatkan kepada capital inflow yang terjadi sejak akhir 2018 hingga perdagangan awal 2019. Menurutnya, hal tersebut perlu dicermati agar kondisi pasar yang sedang membaik saat ini tidak ditinggalkan oleh investor.


 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transaksi saham

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top