Dolar AS Pulih, Rupiah Melemah Bersama Mata Uang Asia Lainnya

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 65 poin atau 0,46% di level Rp14.148 per dolar AS setelah bergerak pada kisaran Rp14.003 – Rp14.163 per dolar AS.
Aprianto Cahyo Nugroho | 08 Januari 2019 18:05 WIB
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Reli penguatan rupiah berakhir pada perdagangan hari ini, Selasa (8/1/2019), sejalan dengan penguatan indeks dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 65 poin atau 0,46% di level Rp14.148 per dolar AS setelah bergerak pada kisaran Rp14.003 – Rp14.163 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar rupiah sebelumnya dibuka terapresiasi 24 poin atau 0,17% di level Rp14.059 per dolar AS, setelah berakhir melonjak 187 poin atau 1,31% di posisi Rp14.083 per dolar AS pada perdagangan Senin (7/1).

Rupiah melemah sejalan dengan mata uang lainnya di Asia yang mayoritas juga berada di zona merah, dengan pelemahan terbesar dialami rupee India yang terdepresiasi 0,52%, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,46%.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,209 poin atau 0,22% ke level 95,875 pada pukul 17.20 WIB.

Indeks dolar mulai rebound ke zona hijau dengan dibuka naik tipis 0,023 poin atau 0,02% di level 95,689 pagi tadi, setelah pada perdagangan Senin (7/1) berakhir melemah 0,53% atau 0,513 poin di posisi 95,666, pelemahan hari ketiga berturut-turut.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS berjuang bangkit dari pelemahan yang dialami selama beberapa hari terakhir saat para pedagang menantikan hasil perundingan perdagangan antara AS dan China.

Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS) Wilbur Ross memprediksi bahwa pemerintah AS dan China dapat mencapai kesepakatan perdagangan, ketika sejumlah pejabat dari dua negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia ini melanjutkan perundingan guna mengakhiri sengketa perdagangan mereka.

“Saya pikir ada peluang yang sangat baik bahwa kita akan mendapatkan penyelesaian masuk akal yang dapat diterima China, dapat diterima kita, dan yang membahas semua isu utama,” kata Ross dalam wawancara CNBC, seperti dilansir Reuters.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing memiliki "itikad baik" untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat guna menyelesaikan friksi perdagangan ketika para pejabat Tiongkok bertemu dengan pejabat AS di Beijing pada 7-8 Januari.

Sementara itu, pemerintah cukup optimistis dapat menjaga penguatan rupiah terhadap dolar AS. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap nilai mata uang Negeri Paman Sam itu turun lagi.  

“Mudah-mudahan nanti [dolar AS] bisa turun lagi,” kata Wapres Kalla di Kantor Wakil Presiden RI, Selasa (8/1/2019).

Terkait dengan penguatan rupiah tersebut, Wapres Kalla mengatakan tak terlepas dari kinerja positif yang dilakukan Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. Menurut dia salah satu pendorong penguatan rupiah adalah investasi asing yang mulai masuk kembali.

Sebabnya, Bank Indonesia menaikan suku bunga secara bertahap selama enam bulan terakhir dari 4,25% menjadi 6%. Di sisi lain Wapres Kalla pun menilai faktor eksternal cukup berpengaruh di mana ekonomi Amerika Serikat sedikit goyah.

“Yang dulunya keluar sekarang [investasi asing] kembali masuk lagi karena lebih tertarik dari pada itu. Di samping itu juga ekonomi Amerika tidak sekuat, apa, banyak masalah-masalah, sehingga mereka lebih memilih untuk investasi keluar sehingga rupiah kita menguat,” tuturnya.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top