Minyak Mentah Rebound, Batu Bara Newcastle Masih Lanjutkan Pelemahan

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup melemah 0,93% atau 0,95 poin di level US$101,10 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Januari 2019  |  08:14 WIB
Minyak Mentah Rebound, Batu Bara Newcastle Masih Lanjutkan Pelemahan
Warga mengamati kapal tongkang batu bara yang kandas dan patah menjadi dua akibat diterjang gelombang besar di perairan pantai Ujung Kareng, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (30/7/2018). - ANTARA/Ampelsa

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa ICE Newcastle melemah pada akhir perdagangan hari pertama di 2019, Rabu (2/1/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup melemah 0,93% atau 0,95 poin di level US$101,10 per metrik ton.

Harga batu bara melanjutkan pelemahan di hari kedua setelah pada perdagangan Senin (31/12), harga batu bara kontrak Januari ditutup melemah 0,54% atau 0,55 poin ke level US$102,05 per metrik ton.

Adapun di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup berbalik melemah 1,44% atau 1,25 poin ke level US$85,45 per metrik ton, setelah mampu rebound 0,76% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan harga batu bara, harga minyak mentah ditutup menguat pada perdagangan perdana di 2019 karena bursa saham AS pulih dan data menunjukkan OPEC memulai penurunan produksi yang dijanjikan lebih awal.

Minyak West Texas Intermediate untuk kontrak Februari menguat US$1,13, atau 2,5% ke US$46,54 per barel di New York Mercantile Exchange, dengan total volume yang diperdagangkan sekitar 20% di atas rata-rata 100 hari.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Maret menguat US$1,11 menjadi US$54,91 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, dan diperdagangkan lebih tinggi US$8,05 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Output dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun paling banyak dalam hampir dua tahun pada Desember, menurut survei Bloomberg terhadap sejumlah pejabat, analis, dan data pelacakan kapal.

Pengurangan sekitar 500.000 barel per hari ini dimulai bahkan sebelum pemangkasan output yang dijadwalkan akan dimulai bulan ini, menyoroti urgensi bahwa eksportir minyak mentah merasa untuk membendung pasar yang telah jatuh bebas.

"Pemangkasan (output) itu besar dan akan tumbuh," ungkap Phil Flynn, analis pasar di Price Futures Group Inc., seperti dikutip Bloomberg. "Itu akan menyebabkan penurunan besar pada pasokan."

Skeptisisme investor tentang kemampuan OPEC untuk mencegah surplus tahun ini telah membantu menyeret harga anjlok hampir 40% hingga akhir tahun 2018. Pelaku pasar khawatir setiap pemotongan output tidak akan cukup dalam untuk membendung lonjakan pasokan dari pengebor minyak shale AS.

"Kami telah melihat beberapa kali di mana pasar berusaha untuk bangkit dan tampaknya tekanan jual selalu kembali," kata Gene McGillian, manajer riset pasar di Tradition Energy.

 "Sampai kita melihat lebih banyak bukti bahwa fundamental. di pasar tidak selemah yang dipikirkan orang, saya pikir kita akan terus merasakan tekanan itu."

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Desember 2018 di bursa Newcastle

Tanggal

US$/MT

2 Januari 2019

101,10

(-0,93%)

31 Desember 2018

102,05

(-0,54%)

28 Desember 2018

102,60

(+0,05%)

27 Desember

102,55

(+0,44%)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top