Kelebihan Pasokan Bayangi Outlook Gandum 2019

Harga gandum reli sepanjang 2018, ketika seluruh harga komoditas pertanian terguncang. Namun, kenaikan harga tersebut diprediksi segera berakhir.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 11 Desember 2018  |  20:50 WIB
Kelebihan Pasokan Bayangi Outlook Gandum 2019
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga gandum reli sepanjang 2018, ketika seluruh harga komoditas pertanian terguncang. Namun, kenaikan harga tersebut diprediksi segera berakhir.

Gandum diperkirakan akan menjadi korban dari kesuksesannya sendiri. Dengan harganya yang terlihat lebih atraktif dibandingkan dengan tanaman-tanaman saingannya, ada pertanda bahwa para petani gandum di seluruh dunia akan memanen di lahan yang lebih luas untuk pertama kalinya dalam 4 tahun.

Kenaikan jumlah lahan penanaman gandum diperkirakan akan membuat pasokan gandum global membengkak bersama dengan jumlah permintaan yang belum menunjukkan adanya penguatan.

Rabobank International memprediksikan gandum sebagai tanaman yang harganya paling bearish pada tahun depan. Diprediksi harga gandum akan mencapai puncaknya pada kuartal I/2019. Adapun, sejumlah hedge fund memperkirakan harga gandum akan mengalami penurunan mulai pertengahan September tahun depan.

Analis pasar senior di Midwest Market Solutions Brian Hoops mengatakan bahwa jumlah pasokan gandum tahun depan akan membeludak.

“Supaya harganya bisa naik, harus ada masalah pada tanaman atau masalah apapun yang bisa mempengaruhi panen di wilayah-wilayah pertanian gandum dunia,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/12/2018).

Sepanjang 2018, harga gandum sangat cemerlang. Terhitung secara year-to-date (ytd) harga gandum sudah mencatatkan kenaikan harga hingga 20,55%. Adapun, pada perdagangan Selasa (11/12), harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami penurunan 2 poin atau 0,38% menjadi US$523,25 sen per bushel.

Gandum menjadi komoditas dengan kinerja terbaik dibandingkan dengan 11 komoditas pertanian lainnya.

Cadangan gandum dunia menyusut setelah bertahun-tahun mengalami kelebihan pasokan dan tanaman tersebut menjadi pilihan alternatif bagi para petani di tengah perang dagang antara AS dan China yang semakin memanas sehingga menekan harga komoditas biji-bijian lain seperti kedelai dan jagung.

Mayoritas reli terpicu oleh kekeringan di hampir seluruh wilayah Eropa dan Laut Hitam, yang kemudian memicu kekhawatiran akan penurunan ekspor. Rusia, penjual utama gandum dunia, mengumpulkan panen dari kedua wilayah dengan jumlah yang lebih kecil, untuk pertama kalinya dalam enam musim.

Kekacauan panen lantaran masalah cuaca tersebut membuat harga gandum terdongkrak ke level tertinggi selama tiga tahun pada Agustus lalu.

Namun, berdasarkan data Internatinal Grain Council pada November, lonjakan harga tersebut kemudian memicu petani untuk menanam 0,7% lebih banyak gandum pada musim 2019 – 2020, termasuk di Rusia dan Uni Eropa.

Petani di AS diperkirakan memacu jumlah lahannya hingga sekitar 2,5 juta hektare dan outlook-nya jadi terus bearish karena belum ada ramalan cuaca yang bisa mengganggu panen pada tahun depan.

“Meskipun ketersediaan pasokan di Laut Hitam mengetat dan pembeli beralih ke pasokan dari Eropa dan AS, pasokan global akan diimbangi oleh panen Argentina yang jumlahnya cukup besar pada awal 2019 mendatang,” kata Arlan Suderman, Kepala ekonom komoditas INTL FCStone.

Dengan jumlah produksi di Australia, Eropa, dan Laut Hitam yang rebound pada akhir tahun ini, akan makin sulit bagi pengekspor gandum AS untuk mencari tujuan pengiriman. Musim ini, komitmen ekspor gandum Amerika mencatatkan penurunan 11% dari jumlahnya pada periode yang sama tahun lalu.

Di tengah permintaan yang melambat, cadangan pasokan gandum AS diperkirakan akan mencapai 965 juta bushel. Jumlah tersebut lebih tinggi dari prediksi Pemerintah AS akan pasokan sebanyaj 949 juta pada November.

Adapun, Departemen Pertanian AS (USDA) baru akan merilis data estimasi pasokan dan permintaan pada Selasa (11/12) sore waktu Washington.

Para investor memberi sinyal bahwa banyaknya jumlah pasokan akan membuat harga mengalami penurunan. Menurut data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (FTC) AS, pada pekan 4 Desember, hedge fund menahan posisi jangka pendeknya untuk komoditas gandum menjadi 28.407 kontrak berjangka dan opsi.

Jumlah kepemilikan tersebut sudah mencatatkan pergerakan negatif dalam 12 pekan terakhir, jangka waktu terpanjang sejak Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, gandum

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top