Strategi Emisi SUN Valas Pemerintah Dinilai Tepat

Analis menilai keputusan pemerintah menurunkan nilai prefunding 2019 serta meningkatkan porsi emisi pada tenor 10 tahun merupakan strategi yang tepat memanfaatkan kondisi pasar terkini dan fokus menarik utang dari dalam negeri.
Emanuel B. Caesario | 07 Desember 2018 13:50 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai keputusan pemerintah menurunkan nilai prefunding 2019 serta meningkatkan porsi emisi pada tenor 10 tahun merupakan strategi yang tepat memanfaatkan kondisi pasar terkini dan fokus menarik utang dari dalam negeri.

Pada awal pekan ini pemerintah telah menerbikan Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi US dollr dengan format SEC-registered sebesar US$3,0 miliar dalam 3 seri. Transaksi penjualan SUN ini memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB- dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch.

Ketiga seri tersebut terdiri atas RI0224 tenor 5 tahun US$750 juta, RI0229 tenor 10 tahun US$1,25 miliar, dan RI0249 tenor 30 tahun US$1,0 miliar. Seri 5 tahun memiliki kupon 4,45)% dan yield 4,480%, seri 10 tahun kupon 4,750% dan yield 4,780%, serta seri 30 tahun kupon 5,350% dan yield 5,380%.

Dari sisi harga, seri 5 tahun dilepas di harga 99,852%, seri 10 tahun pada 99,748%, dan seri 30 tahun pada 99,539%.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa emisi SUN valas dalam rangka prefunding 2019 ini merupakan yang terendah dalam 4 tahun terakhir.

Hal ini memang sejalan dengan strategi DJPPR terkait penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) valas tahun 2019 yang ditargetkan hanya antara 14% - 17% dari total target emisi SBN 2019. Porsi ini turun dibandingkan 2018yang ditargetkan antara 17% - 20%, dengan realisasi 18%.

Anup mengatakan, hal yang cukup menarik dari emisi SUN valas dalam rangka prefunding kali ini adalah tingginya porsi emisi pemerintah pada instrmen tenor 10 tahun. Nilainya sekitar 42% dari total emisi, meningkat dibandingkan prefunding 2018 yang sekitar 31%, kendati secara nilai sama-sama US$1,25 miliar. Tahun lalu, porsi terbesar adalah pada seri 30 tahun senilai US$1,75 miliar.

Menurutnya, hal ini terjadi karena yield spread atau selisih yield antara tenor 5 tahun dan 10 tahun dalam emisi kali ini merupakan yang paling sempit dalam beberapa tahun terakhir. Dengan demikian, lebih menguntungkan bagi pemerintah untuk menerbitkan intrumen dengan tenor 10 tahun yang lebih panjang, sebab yieldnya hanya terpaut sedikit dari tenor 5 tahun.

Penurunan yield spread ini terjadi lantaran semakin flat juga yield curve US Treasury. Namun, yield differensial antara US Treasury dan SUN valas prefunding 2019 kali ini juga mengalami peningkatan bila dibandingkan SUN valas prefunding 2018, kendati tidak lebih tinggi dibandingkan SUN valas prefunding 2017.

Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan risiko, kendati tidak terlalu signifikan, bagi investor untuk memegang SUN valas.

“Keputusan DJPPR dalam memperbesar penerbitan seri 10 tahun pada pre-funding 2019 dapat dikatakan benar,” katanya, dikutip Jumat (7/12/2018).

Anup mengatakan, harga seri SUN valas ini sempat mendekati par, karena dijual dalam harga diskon. Menurutnya, hal ini terjadi lantaran minimnya pasokan SUN valas pada pre-funding kali ini, adanya sentimen positif terhadap pasar obligasi Indonesia, dan turunnya imbal hasil US Treasury yang menyebabkan yield differensial antara US Treasury dan SUN valas semakin melembar.

Meskipun demikian, CDS Indonesia kini sedang sedikit meningkat yang mengindikasikan peningkatan risiko.

Tag : Obligasi, surat utang negara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top