MNC Sekuritas: Harga SUN Masih Dalam Tren Landai

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Jumat (7/12/2018), didukung oleh indikator teknikal yang menunjukkan harganya berada pada tren melandai.
Emanuel B. Caesario | 07 Desember 2018 10:29 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA - MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara masih akan bergerak dengan kecenderungan mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Jumat (7/12/2018), didukung oleh indikator teknikal yang menunjukkan harganya berada pada tren melandai.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas mengatakan hanya saja penurunan harga akan mulai terbatas seiring dengan akan mulai terjaganya nilai tukar rupiah di tengah pelemahan mata uang dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia serta imbal hasil US Treasury yang terus mengalami penurunan, menjadikan instrumen Surat Utang Negara akan kembali menarik bagi investor asing. 

Pelaku pasar pada hari ini akan mencermati data cadangan devisa per akhir November 2018 yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia pada hari ini.

Made memperkirakan angkanya akan mngalami peningkatan dibandingkan dengan posisi di akhir Oktober 2018 seiring dengan masuknya modal asing di pasar modal Indonesia baik di pasar saham maupun di pasar Surat Berharga Negara.

"Di tengah masih terbukanya peluang koreksi harga lanjutan, maka kami menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang negara di pasar sekunder," katanya dalam riset harian, Jumat (7/12/2018).

Seiring dengan koreksi harga, tingkat imbal hasil beberapa Surat Utang Negara cukup menarik untuk kembali diakumulasi di tengah laju inflasi yang  diperkirakan masih akan terkendali. 

Beberapa seri tersebut di antaranya adalah sebagai berikut : FR0061, FR0043, FR0070, FR0056, FR0042, FR0058, FR0074, FR0068, FR0072 dan FR0067.


Review Perdagangan Kemarin

Imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Kamis, 6 Desember 2018 kembali mengalami kenaikan di tengah masih berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. 

Kenaikan imbal hasil terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara dengan kenaikan hingga sebesar 11 bps dengan rata - rata mengalami kenaikan sebesar 5 bps. 

Surat Utang Negara bertenor pendek mengalami kenaikan imbal hasil hingga sebesar 7 bps setelah mengalami penurunan harga hingga sebesar 15 bps. 

Sementara itu, kenaikan imbal hasil hingga sebesar 11 bps didapati pada Surat Utang Negara bertenor menengah didorong oleh adanya penurunan harga yang berkisar antara 40 bps hingga 50 bps. 

Adapun imbal hasil Surat Utang Negara bertenor panjang mengalami kenaikan hingga sebesar 8 bps setelah mengalami penurunan harga hingga sebesar 70 bps. 

Imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan juga mengalami kenaikan yang didorong oleh adanya penurunan harga hingga sebesar 68 bps, dimana pada seri acuan bertenor 5 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 11 bps di level 7,922% dan kenaikan imbal hasil sebesar 7,5 bps didapati pada seri acuan dengan tenor 20 tahun di level 8,326%. 

Sementara itu imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 15 tahun masing - masing mengalami kenaikan sebesar 6 bps dan 5 bps di level 7,928% dan 8,153%.

Berlanjutnya tren kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara yang terjadi pada pekan ini didorong oleh faktor pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ditengah kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global yang diperkirakan akan mengalami perlambatan di tahun 2019. 

Pelemahan nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin juga mendorong Bank Indonesia untuk melakukan intervensi baik di pasar valas maupun di pasar Surat Berharga Negara. 

Penurunan harga Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin diikuti oleh meningkatnya volume perdagangan, mengindikasikan bahwa pelaku pasar cukup khawatir koreksi harga Surat Utang Negara yang disebabkan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah.

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, pergerakan harganya terlihat cenderung mengalami kenaikan seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasury. 

Hanya saja, kenaikan harga yang terjadi cenderung terbatas dikarenakan meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan angka Credit Default Swap (CDS) seiring dengan gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. 

Kenaikan harga pada perdagangan kemarin, telah mendorong penurunan imbal hasil INDO28 di level 4,695% dan INDO43 di level 5,320%. Adapun imbal hasil dari INDO23 relatif tidak banyak mengalami perubahan di level 4,265%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp14,75 triliun dari 48 seri Surat Berharga negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan mencapai Rp4,31 triliun. 

Obligasi Negara seri FR0070 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp4,005 triliun dari 46 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0063 senilai Rp2,308 triliun dari 25 kali transaksi di harga rata - rata 91,47%. 

Adapun Project Based Sukuk seri PBS017 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp165,00 miliar dari 14 kali transaksi dengan harga rata - rata 88,50% yang diikuti oleh perdagangan Sukuk Negara Ritel seri SR010 senilai Rp161,51 miliar dari14 kali transaksi di harga rata - rata 96,07%.

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp788,40 miliar dari 39 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan. 

Obligasi Berkelanjutan II Maybank Finance Tahap I Tahun 2018 Seri A (BIIF02ACN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp152,00 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata - rata 100,30% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan II WOM Finance Tahap IV Tahun 2018 Seri C (WOMF02CCN4) senilai Rp54,00 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 99,93%. 

Adapun Sukuk Wakalah Medco Power Indonesia I Tahun 2018 Seri A (SWMEDP01A) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp34,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 99,87%.

Nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin kembali ditutup dengan pelemahan, sebesar 117,50 pts (0,82%) di level 14520,00 per Dollar Amerika setelah bergerak dengan mengalami pelemahan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14482,50 hingga 14570,00 per Dollar Amerika. 

Dengan pelemahan tersebut, mata uang Rupiah memimpin pelemahan mata uang regioanl terhadap Dollar Amerika. 

Setelah Rupiah, pelemahan terbesar didapati pada Won Korea Selatan (KRW) sebesar 0,59% yang diikuti oleh mata uang Yuan China (CNY) sebesar 0,48%. Mata uang regional yang mengalami penguatan terhadap Dollar Amerika pada perdagangan kemarin adalah Yen jepang (JPY) sebesar 0,49%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan kemarin ditutup dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham global. Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan penurunan, masing - masing di level 2,83% dan 3,13% di tengah investor yang memburu aset yang lebih aman (safe haven asset) seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar saham. 

Imbal hasil dari surat utang Inggris dan Jerman pada perdagangan kemarin juga ditutup dengan mengalami penurunan masing - masing di level 1,23% dan 0,24% ditengah pasar saham kawasan Eropa yang mengalami penurunan sebesar 3,15% (FTSE) dan 3,48% (DAX). Imbal hasil surat utang Jepang juga ditutup dengan mengalami penurunan di level 0,067%.
 

Tag : Obligasi, surat utang negara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top