ANTM Pacu Penjualan Nikel dan Emas

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berencana memacu penjualan feronikel dan emas pada 2019. Kedua komoditas merupakan kontributor utama kinerja keuangan perusahaan.
Hafiyyan | 05 Desember 2018 05:47 WIB
Karyawati memperlihatkan emas batangan 88 gram bergambar Shio Anjing Tanah milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam), di Jakarta, Kamis (18/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berencana memacu penjualan feronikel dan emas pada 2019. Kedua komoditas merupakan kontributor utama kinerja keuangan perusahaan.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo menyampaikan, pada tahun depan perusahaaan akan meningkatkan penjualan emas sejumlah 30 ton dari estimasi 2018 sebesar 26 ton. Adapun, penjualan feronikel dapat bertambah 5.000 ton nikel dalam feronikel (TNI) seiring dengan rampungnya proyek di Halmahera Timur (Haltim).

“Selama ini, emas merupakan kontributor utama pendapatan perseroan, tetapi kontribusi laba bersih paling besar dari nikel,” ujarnya, Senin (3/12).

Per September 2018, total penjualan Antam mencapai Rp19,69 triliun. Pemasaran emas berkontribusi Rp13,38 triliun dengan volume 22,38 ton, sedangkan feronikel menyumbang Rp3,85 triliun dengan volume 19.149 TNi.

Feronikel tersebut berasal dari pabrik di Pomalaa yang memiliki kapasitas terpasang 27.000 TNi per tahun. Pada akhir 2018, Antam akan memulai commissioning pabrik di Haltim dengan kapasitas 13.500 TNi per tahun. Namun, operasi komersial diperkirakan baru dapat dimulai pada pertengahan 2019.

“Selain itu, yang namanya produksi perdana kan ada ramping up, sehingga kapasitas belum akan full. Secara bertahap akan bertambah,” imbuhnya.

Arie menyampaikan, optimisme peningkatan penjualan juga didukung strategi perusahaan dalam memasarkan emas. Saluran penjualan kini diperluas melalui dagang el. Apalagi animo masyarakat cukup tinggi dalam berinvestasi batu kuning.

Namun demikian, penjualan perseroan pada kuartal IV/2018 terimbas pelemahan harga komoditas mineral. Oleh karena itu, walaupun volumenya meningkat, ada kemungkinan kinerja keuangan akan di bawah perolehan pada kuartal III/2018.

Di sektor bisnis penghiliran bauksit, Antam sudah memulai operasional pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Kalimantan Barat melalui PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) pada November 2018. Penjualan perdana dilakukan ke Taiwan dan Jepang.

Diharapkan pada 2019 ICA akan menunjang perbaikan kinerja Antam. Adapun, proses pengalihan 20% saham Showa Denko K.K (SDK) Jepang di ICA kepada perseroan tinggal menunggu persetujuan Kementerian ESDM.

“Yang jelas, proses pengambilan saham tidak memengaruhi operasional ICA. SDK juga sudah ingin melepas sahamnya,” tuturnya.

Tag : antam
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top