Produksi Minyak Rusia Anjlok Menuju Pertemuan OPEC+

Produksi minyak Rusia anjlok menjelang gelaran pertemuan OPEC pada akhir pekan ini untuk memutuskan strategi produksi karena adanya penurunan tajam pada harga minyak.
Mutiara Nabila | 03 Desember 2018 14:16 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi minyak Rusia anjlok menjelang gelaran pertemuan OPEC pada akhir pekan ini untuk memutuskan strategi produksi karena adanya penurunan tajam pada harga minyak.

Rusia memproduksi 11,36 juta barel per hari untuk pasokan minyak mentah dan kondensasi pada November, penurunan 0,42% dari produksinya pada Oktober. Penurunan tersebut merupakan yang penurunan bulanan pertama kalinya di Rusia sejak awal tahun ini.

Dengan harga minyak Brent yang melorot lebih dari 30% sejak awal Oktober, Rusia dan Arab Saudi sepakat pada Sabtu (1/12) untuk bekerja sama di pasar minyak pada tahun depan, memperpanjang kesepakatan OPEC+.

Dengan keputusan yang bisa membuka jalan untuk mencapai kesepakatan antara Rusia dan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang diadakan di Wina pada 6-7 Desember mendatang, perincian terkait dengan jumlah pemangkasan produksi yang akan dilakukan masih belum jelas.

Direktur HIS Markit Inc. Rusia Maksim Nechaev mengatakan, Rusia yang memompa minyak dengan jumlah yang lebih rendah saat ini bukan menjadi sinyal bahwa para produsen OPEC+ akan melakukan pemangkasan produksi sebelum ada keputusan yang dibuat pada pertemuan mendatang di Wina. Adapun, hal yang menjadi penekan utama adalah faktor musiman.

“Rusia tidak bermaksud memangkas produksi sama sekali. Dalam kondisi pasar saat ini, perusahaan minyak di Rusia menargetkan untuk memompa sebanyak yang mereka mampu untuk menopang aliran pendapatan,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Minggu (2/12/2018).

Gazprom Neft PJSC, anak perusahaan Gazprom PJSC, dan Lukoil PJSC, sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di Rusia, memimpin penurunan produksi pada bulan lalu. Gazprom Neft mengalami penurunan produksi hingga 4,71% sepanjang Oktober dan Lukoil mengalami penurunan haingga 0,91%.

Sementara itu, Rosneft PJSC, perusahaan minyak terbesar di Rusia, memompa sedikit lebih banyak pada Oktober sebagai bentuk dari proyek utamanya. Penghapusan pajak produksi pada sejumlah pertambangan minyak Rosneft memberikan insentif lebih pada perusahaan itu sehingga bisa meningkatkan produksinya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (30/11) harga minyak Brent mengalami penurunan 0,45 poin atau 0,75% menjadi US$59,46 per barel. Harga tersebut membuat Brent mencatatkan penurunan harga hingga 11,08% sepanjang 2018 berjalan.

Adapun, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan 1,01% atau 0,52 poin menjadi US$50,93 per barel dan membukukan penurunan 15,71% secara year-to-date (ytd).

“Rusia berniat untuk tetap menjaga produksi minyaknya mendekati rata-rata pada Oktober hingga akhir tahun ini,” tutur Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

Hal tersebut menunjukkan masih ada kemungkinan pertumbuhan jumlah pasokan dalam beberapa bulan ke depan di tengah penurunan harga minyak Brent.

Produsen Rusia tidak panik melihat penurunan harga Brent seperti saat ini karena adanya perubahan nilai mata uang ruble dan sistem perpajakan yang menawarkan pelindung nilai alami bagi biaya yang harus dikeluarkan.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top