Kesepakatan Trump-Xi Jinping Kerek Pasar Saham China

Dua indeks saham utama China berakhir menguat lebih dari 2% pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), setelah para pemimpin negara ini dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk memasuki periode ‘gencatan senjata’ dalam perang dagang mereka.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Desember 2018  |  16:58 WIB
Kesepakatan Trump-Xi Jinping Kerek Pasar Saham China
Bursa China SHCI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Dua indeks saham utama China berakhir menguat lebih dari 2% pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018), setelah para pemimpin negara ini dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk memasuki periode ‘gencatan senjata’ dalam perang dagang mereka.

Indeks Shanghai Composite berakhir menguat 2,57% atau 66,61 poin di level 2.654,80, setelah mampu rebound dan ditutup dengan kenaikan 0,81% atau 20,74 poin di posisi 2.588,19 pada perdagangan Jumat (30/11).

Adapun indeks CSI 300 di Shenzhen yang berisi saham-saham blue chip berakhir dengan penguatan 2,78% atau 88,26 poin di level 3.260,95 hari ini, setelah rebound dan ditutup menanjak 1,12% atau 35,04 poin di level 3.172,69 pada perdagangan terakhir pekan lalu.

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela perhelatan KTT G20 akhir pekan kemarin, Presiden AS Donald Trump setuju untuk menunda menaikkan tarif sebagai imbalan atas lebih banyak pembelian barang-barang asal AS.

Trump sebelumnya merencanakan akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar menjadi 25% pada 1 Januari dari 10%. Kesepakatan ini serta menunda ancaman paling mendesak terhadap ekonomi global dan China.

Terlepas dari penguatan yang dibukukan hari ini, prospek jangka panjang untuk hubungan perdagangan dan pasar China tetap suram.

Para analis memperingatkan bahwa hanya ada periode selama tiga bulan untuk memperdebatkan isu-isu perdagangan dan kebijakan antara kedua negara. Sementara itu, ekonomi China diperkirakan akan terus melesu akibat terbebani berkurangnya permintaan domestik.

“Ini adalah penguatan yang melegakan. Pasar telah oversold. Saya tidak berpikir kami membutuhkan banyak alasan (untuk rebound),” kata Paul Kitney, kepala strategi ekuitas di Daiwa Capital Markets di Hong Kong, seperti dikutip Reuters.

“Kesepakatan itu bukanlah gencatan senjata, itu hanya penurunan eskalasi. Tarif yang ada masih memiliki dampak negatif pada ekonomi China dan belum pergi.”

Tetap saja, sentimen kesepakatan antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut memberikan kelegaan bagi pasar saham China yang telah merosot lebih dari 20% pada satu titik tahun ini.

Sejalan dengan bursa saham China,  pergerakan indeks Hang Seng berakhir menguat 2,55% atau 675,29 poin di level 27.182,04, setelah rebound dan berakhir naik 0,21% di posisi 26.506,75 pada Jumat (30/11).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup