Ekspektasi Pemangkasan Produksi OPEC & Rusia Kerek Harga Minyak

Harga minyak kembali menghijau setelah kemunculan ekspektasi bahwa OPEC dan Rusia akan kembali menyepakati sejumlah pemangkasan produksi pada pertemuan pekan depan, meskipun cadangan minyak Amerika Serikat yang membeludak masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Mutiara Nabila | 30 November 2018 15:23 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kembali menghijau setelah kemunculan ekspektasi bahwa OPEC dan Rusia akan kembali menyepakati sejumlah pemangkasan produksi pada pertemuan pekan depan, meskipun cadangan minyak Amerika Serikat yang membeludak masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada perdagangan Jumat (30/11) harga minyak Brent mencatat kenaikan tipis 0,04 poin atau 0,07% menjadi US$59,55 per barel dari perdagangan sesi sebelumnya. Sepanjang 2018 harga minyak Brent sudah mengalami penurunan harga hingga hampir 12%.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenikan tipis 0,03 poin atau 0,06% menjadi US$51,48 per barel dan membukukan penurunan harga hingga sekitar 16% sepanjang 2018.

Analis bank investasi Jefferies John DiFucci mengatakan meskipun menguat, harga minyak mentah seudah kehilangan sepertiga nilainya sejak Oktober karena kemunculan limpahan produksi minyak mentah secara global, termasuk dari AS, Rusia, dan Timur Tengan yang didominasi oleh negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

“Untuk jangka pendek, kasus kelebihan pasokan sudah membebani harga Brent, yang menignkatkan kemugnkinan adanya penimbunan cadangan,” ungkapnya, dilansir dari Reuters, Jumat (30/11).

Kekhawatiran tersebut terlihat dari kurva harga minyak Brent, di mana harga minyak berjangkanya masih lebih tinggi daripada yang dijual spot, struktur tersebut disebut contango yang membuat pasar lebih tertarik untuk menimbun pasokan minyaknya untuk dijual di kemudian hari.

Untuk mengatasi masalah kelebihan pasokan, OPEC dan rekanan terdekatnya Rusia tengah menuju kesepakatan untuk melakukan pemangkasan produksi yang lebih dalam.

Bank ANZ melaporkan bahwa harga minyak yang rebound menjadi tanda bahwa OPEC+ semakin mendekati kesepakatan pemangkasan produksi. Para pimpinan negara produsen minyak itu akan melakukan pertemuan tahunan pada 6-7 Desember mendatang untuk membahas kebijakan produksi.

“Hasil keputusan dari rapat OPEC+ pada 6 Desember nanti akan menjadi hal yang sangat penting untuk pembentukkan harga minyak dan untuk mendorong harga minyak ke depan,” lanjut DiFucci.

Sebelum rapat OPEC, ketiga produsen minyak terbesar dunia – AS, Rusia, dan Arab Saudi – akan mengikuti dan menjadi bagian dari pertemuan negara-negara Group of 20 (G20) di Buenos Aires, Argentina pada akhir pekan ini.

Pembengkakan pasokan saat ini didominasi oleh paokan dari AS. Menurut data Energy Information Administration (EIA), jumlah pasokan minyak mentah di AS naik 3.6 juta barel pada pekan 23 November menjadi 450,49 juta barel. Adapun, produksi C-OUT-T-EIA tetap di level rekor yang mencapai 11,7 juta barel per hari.

Cadangan minyaknya juga naik 6,4 miliar barel atau sekitar 19,5% menjadi 39,2 miliar barel pada akhir 2017 dan secara margin lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang mencapai 39 miliar barel pada 1970 silam.

“Dengan kekhawatiran yang menggunung terkait dengan kelebihan pasokan dan penurunan permintaan yang terus menekan harga minyak, harga Brent dan WTI akan tetap dalam kondisi bearish,” kata Lukman Otunuga, analis pialang berjangka ForexTime (FXTM).

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top