Harga Batu Bara Rebound Bersama Minyak Mentah

Harga batu bara berhasil rebound pada akhir perdagangan Senin (26/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 27 November 2018 08:30 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara berhasil rebound pada akhir perdagangan Senin (26/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 ditutup rebound dengan kenaikan 0,62% atau 0,60 poin di level US$97,95 per metrik ton.

Harga batu bara Newcastle kontrak Februari 2019 rebound setelah berakhir terkoreksi 0,46% atau 0,45 poin di posisi 97,35 pada perdagangan Jumat (23/11).

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 juga mampu rebound dengan menanjak 1,56% atau 1,30 poin dan berakhir di level 84,80 kemarin.

Sebaliknya, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange berakhir anjlok 2,21% atau 13,6 poin di level 601,8 yuan per metrik ton pada perdagangan Senin.

Menurut Analis Everbright Futures Zhang Xiaojin, fundamental pasar masih bearish karena stok di pembangkit tenaga listrik tinggi, sedangkan konsumsi harian relatif rendah. Karenanya, harga akan tetap tetap tertekan dalam jangka menengah saat kapasitas baru meningkat.

“Aksi jual dalam komoditas untuk pembuatan baja, seperti batu bara kokas, juga menyeret turun harga batu bara thermal,” kata Zhang, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, harga minyak mentah rebound dan membukukan penguatan terbesar dalam hampir dua bulan terakhir pada perdagangan Senin (26/11), setelah Arab Saudi bersiap untuk membahas pasokan global.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk kontrak Januari 2019 ditutup menguat 2,4% atau 1,21 poin di level US$51,63 per barel di New York Mercantile Exchange, penguatan terbesar sejak akhir September. WTI anjlok hampir 11% pada pekan lalu.

Adapun minyak Brent untuk kontrak Januari 2019 menguat 1,68 poin dan mengakhiri sesi di level US$60,48 di bursa ICE Futures Europe London.

Minyak WTI rebound setelah berakhir anjlok 7,71% atau 4,21 poin di level US$50,42 per barel pada perdagangan Jumat (23/11), sedangkan minyak Brent rebound dari pelemahan tajamnya sebesar 6,07% atau 3,80 poin di posisi 58,80 pada Jumat.

Dilansir Bloomberg, seluruh mata tertuju pada pertemuan G20 pekan ini di Argentina yang akan dihadiri Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Acara tersebut akan diikuti oleh pertemuan penting OPEC minggu depan di Wina.

"Ada komentar yang cukup dari berbagai anggota OPEC tentang mengatasi situasi kelebihan pasokan ini, baik di G20 atau pada pertemuan OPEC mendatang," kata John Kilduff, mitra di hedge fund New Capital LLC yang berbasis di New York, seperti dikutip Bloomberg.

WTI telah turun lebih dari 20% bulan ini karena ekspor minyak Iran yang lebih besar dari perkiraan dan rekor produksi AS. Sementara itu, Arab Saudi memompa lebih banyak minyak sejak pertama kali memompa minyak 80 tahun yang lalu di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump.

“Rusia telah mengisyaratkan mereka tidak terlalu ingin melakukan pemotongan produksi. Jika Saudi memutuskan untuk melakukan pemotongan, hal tersebut benar-benar akan melepaskan pangsa pasar ke AS,” kata Tariq Zahir, fund manager di Tyche Capital Advisors LLC.

"Pekan ini akan bergejolak dengan Arab Saudi dan Rusia menuju G20,” lanjutnya.

Pergerakan harga batu bara kontrak Februari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

26 November

97,95

(+0,62%)

23 November

97,35

(-0,46%)

22 November

97,80

(+0,05%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top