Rekomendasi Obligasi: Pemerintah Batalkan Sisa Lelang, Harga SUN Berpeluang Naik

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) akan kembali berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (23/11/2018), di tengah terbatasnya pasokan SUN di pasar perdana seiring dengan keputusan pemerintah untuk membatalkan agenda lelang Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir tahun ini.
Emanuel B. Caesario | 23 November 2018 10:44 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) akan kembali berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (23/11/2018), di tengah terbatasnya pasokan SUN di pasar perdana seiring dengan keputusan pemerintah untuk membatalkan agenda lelang Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir tahun ini.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan pembatalan lelang akan mendorong investor yang membutuhkan penempatan dana di instrumen SBN untuk melakukan pembelian di pasar sekunder, sehingga bakal berdampak terhadap kenaikan harga SUN di pasar sekunder.

Secara teknikal, harga SUN yang mendekati area jenuh beli (overbought) akan membatasi potensi kenaikan harga di pasar sekunder. Indikator teknikal juga menunjukkan bahwa harga SUN memasuki area konsolidasi.

"Dengan masih berpeluangnya kenaikan harga SUN, kami sarankan kepada investor untuk melakukan strategi trading memanfaatkan momentum kenaikan harga," paparnya dalam riset harian, Jumat (23/11).

Saat ini, lanjut Made, ada beberapa seri SUN yang relatif lebih mahal dibandingkan seri lainnya dengan tenor yang hampir sama. Untuk itu, investor disarankan mencermati beberapa seri yang masih menarik seperti FR0043, FR0070, FR0071, FR0073, FR0074, FR0068, dan FR0072.

Pada Kamis (22/11), harga SUN kembali naik seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di mana rupiah ditutup menguat 22,5 pts atau 0,15% di level Rp14.580.

Kondisi ini terjadi di hampir semua seri SUN, dengan peningkatan harga mencapai 50 bps. Akibatnya, terjadi penurunan yield hingga 9 bps.

Harga SUN dengan tenor pendek bergerak bervariasi hingga 5 bps yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkat imbal hasil sebesar 4 bps. SUN tenor menengah naik antara 5-50 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil di kisaran 2-9 bps.

Sementara itu, kenaikan harga SUN tenor panjang yang mencapai 40 bps menekan yield antara 1-4 bps.

Harga SUN seri acuan juga terlihat mengalami kenaikan di keseluruhan tenor. Kenaikan harga sebesar 5 bps pada SUN tenor 5 tahun dan 10 bps pada tenor 15 tahun telah mendorong terjadinya penurunan imbal hasil kedua seri tersebut, masing-masing 1,5 bps ke level 7,914% dan 8,263%.

Adapun kenaikan harga 25 bps di seri acuan tenor 10 tahun dan sebesar 20 bps di seri acuan tenor 20 tahun mendorong penurunan yield 3 bps dan 2 bps masing-masing ke level 7,913% dan 8,384%.

Selain karena menguatnya rupiah, pergerakan SUN dipengaruhi keputusan pemerintah untuk membatalkan jadwal pelaksanaan lelang penjualan SBN hingga akhir 2018.

Namun, kenaikan harga yang terjadi masih terbatas di tengah kembali meningkatnya persepsi risiko yang tercermin pada kenaikan Credit Default Swap (CDS).

Meskipun bergerak dalam rentang harga yang terbatas, investor cukup aktif melakukan transaksi di pasar sekunder yang tercermin pada volume perdagangan yang cukup besar.

Di sisi SUN berdenominasi dolar AS, tidak terlihat perubahan harga di tengah liburnya pasar keuangan AS dalam rangka perayaan Thanksgiving.

Volume perdagangan SBN yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp10,28 triliun dari 33 seri yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan Rp2,42 triliun.

Obligasi Negara seri FR0078 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp3,575 triliun dari 108 kali transaksi di harga rata-rata 101,78%. Diikuti Obligasi Negara seri FR0077 dengan nilai Rp1,541 triliun dari 79 kali transaksi di harga rata-rata 100,97%.

Sementara itu, Surat Perbendaharaan Negara seri SPNS11012019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp296 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata 99,23%. Diikuti oleh perdagangan Project Based Sukuk seri PBS013 senilai Rp134 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata-rata 99,85%.

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp425,17 miliar dari 36 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap I Tahun 2017 Seri B (ADMF04BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp67 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 97,98%. Diikuti Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap I Tahun 2017 (ADHI02CN1) senilai Rp40 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata-rata 99,15%.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top