PASAR MODAL 2019: Pipeline IPO Tembus 45 Perusahaan  

Pipeline calon emiten baru yang siap melantai di pasar saham Indonesia pada tahun depan mencapai 45 perusahaan atau lebih tinggi dari proyeksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tegar Arief | 23 November 2018 07:46 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Pipeline calon emiten baru yang siap melantai di pasar saham Indonesia pada tahun depan mencapai 45 perusahaan atau lebih tinggi dari proyeksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Data tersebut diperoleh berdasarkan laporan anggota bursa (AB) aktif yang bertindak selaku penjamin emisi kepada BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum lama ini. Adapun, berdasarkan data BEI, hingga saat ini terdapat 105 sekuritas yang menjadi AB. Dari jumlah tersebut, perusahaan yang berperan sebagai penjamin emisi efek atau underwriter sebanyak 82 sekuritas.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD Nyoman Yetna menjelaskan bahwa pertemuan dengan penjamin emisi tersebut dilakukan untuk mengetahui minat perusahaan yang melantai di bursa pada tahun depan.

"Karena mereka yang lebih tahu soal pasar dan minat IPO. Makanya kami adakan pertemuan, ini hanya diskusi dan hasilnya ada 45 perusahaan yang ada dalam pipeline underwriter 2019," jelasnya, Kamis (22/11).

Menurutnya, angka 45 perusahaan cukup realistis. Mengacu pada pengalaman sebelumnya, upaya yang dilakukan oleh bursa dan sekuritas untuk meningkatkan jumlah perusahaan IPO akan berbuah pada tahun berikutnya.

Dengan kata lain, beberapa perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO tahun depan tersebut merupakan hasil pendekatan yang dilakukan oleh underwriter pada 2018. Apalagi, pada tahun ini beberapa perusahaan juga menunda IPO menjadi tahun depan. 

Di sisi lain, otoritas pasar modal masih memiliki berbagai program untuk meningkatkan minat perusahaan untuk menawarkan sahamnya kepada publik. Salah satunya adalah IDX Incubator serta memaksimalkan peran kantor perwakilan di daerah.

"Pipeline underwriter itu kami validasi juga datanya, kami sesuaikan dengan laporan dari daerah. Karena daerah juga bergerak untuk menambah perusahaan IPO, dan ada juga yang melakukan pendekatan one on one," ujarnya. 

Namun demikian, kata Nyoman, sejauh ini bursa masih belum mengubah target IPO pada tahun depan, yakni 35 perusahaan. Angka tersebut sama dengan target yang ditetapkan pada tahun ini.

Sementara itu, sepanjang tahun berjalan jumlah perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di lantai bursa mencapai 51 emiten. Pada sisa tahun ini, bursa masih mengantongi pipeline IPO sebanyak 14 perusahaan. "Potensi listingtahun ini 64 atau 65 perusahaan," kata Nyoman.

Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto membenarkan bahwa belum lama ini AB aktif melakukan pertemuan dengan OJK dan bursa untuk memasukkan data pipeline IPO pada tahun depan. Namun dia tidak bersedia menyebutkan jumlah perusahaan yang berptoensi diboyong ke pasar modal.

Dia menambahkan, secara umum minat perusahaan untuk melantai di bursa masih cukup tinggi kendati sempat ada kekhawatiran mengenai tahun politik serta risiko dari kenaikan suku bunga acuan, baik oleh The Fed maupun Bank Indonesia.

Satu-satunya faktor yang akan menjadi pertimbangan adalah kondisi ekonomi global terutama perang dagang antara AS dengan negara lain, serta kondisi cadangan devisa di Tanah Air.

"Faktor ekonomi global termasuk perang dagang dan defisit neraca perdagangan yang menguras cadangan devisa ini merupakan faktor yang lebih dominan," kata Ocky.

Dia menambahkan, faktor pemilu tidak akan signifikan. Justru, secara historis dalam beberapa pemilu terakhir menunjukkan tren perbaikan pasar, baik dari sisi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) maupun minat IPO.

 

 
 

Tag : ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top