MNC Sekuritas: SUN Cenderung Bergerak Terbatas Jelang Libur AS

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) akan cenderung bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (22/11/2018), menjelang liburnya pasar keuangan AS.
Emanuel B. Caesario | 22 November 2018 09:37 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) akan cenderung bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (22/11/2018), menjelang liburnya pasar keuangan AS.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan faktor lainnya adalah minimnya katalis dari dalam negeri yang akan  mendorong investor untuk menahan diri melakukan transaksi di pasar sekunder.

"Dengan kondisi pergerakan harga SUN yang kami perkirakan bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga SUN di pasar sekunder," paparnya dalam riset harian, Kamis (22/11).

Made melanjutkan investor dapat mulai memanfaatkan momentum kenaikan harga untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking), terutama pada seri - seri yang dinilai relatif lebih mahal dibandingkan seri SUN lainnya dengan tenor yang sama. Seri-seri yang dimaksud di antaranya adalah FR0059, FR0064, dan FR0078.

Adapun untuk seri FR0077, FR0056, FR0071, dan FR0065 juga dapat mulai dilakukan profit taking apabila pada perdagangan hari ini kembali mengalami kenaikan harga.

Pada Rabu (21/11), harga SUN bergerak dengan kecenderungan mengalami kenaikan seiring dengan membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS) di tengah gejolak yang terjadi di pasar saham global. Relatif stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah di tengah mata uang regional yang bergerak dengan kecenderungan pelemahan terhadap dolar AS juga turut menjadi katalis positif.

Perubahan harga yang terjadi mencapai 55 bps, di mana harga SUN tenor pendek mengalami penurunan sedangkan tenor menengah dan panjang mengalami kenaikan.

Penurunan harga sebesar 2-7 bps pada SUN tenor pendek mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil hingga 3 bps. Di SUN tenor menengah, kenanikan harga antara 5-15 bps menekan yield sebesar 2 bps.

Sementara itu, kenaikan harga hingga 55 bps di SUN tenor panjang menyebabkan tingkat yield turun antara 1-7 bps.

Adapun perubahan harga pada SUN seri acuan menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5 bps untuk tenor 10 tahun ke level 7,94% dan  penurunan 2 bps untuk tenor 20 tahun ke level 8,405%.

Untuk seri acuan bertenor 5 tahun dan 15 tahun, perubahan harga yang terjadi relatif terbatas sehingga tingkat imbal hasilnya tidak banyak mengalami perubahan, masing-masing di level 7,931% dan 8,278%.

Dari lelang SUN kemarin, pemerintah meraup dana Rp15 triliun dari total penawaran yang masuk senilai Rp41,62 triliun.

Jumlah yang dimenangkan tersebut lebih rendah dibandingkan pencapaian lelang sebelumnya yang sebesar Rp20 triliun.Nilai penawarannya juga turun dibandingkan dengan lelang sebelumnya yang mencapai Rp59,48 triliun.

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan global turut mempengaruhi penurunan jumlah penawaran pada lelang kemarin.

Di saat harga SUN bergerak dengan kecenderungan naik, harga SUN berdenominasi dolar AS justru terlihat mengalami penurunan. Hal ini terutama terlihat pada SUN bertenor panjang.

Harga INDO23 turun 10 bps, yang mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil sebesar 2,5 bps ke level 4,392%. Adapun harga dari INDO43 turun 25 bps, yang menyebabkan yield meningkat 2 bps ke level 5,509%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp10,55 triliun dari 35 seri yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,73 triliun.

Obligasi Negara seri FR0077 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp2,572 triliun dari 39 kali transaksi. Diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0078 senilai Rp1,623 triliun dari 70 kali transaksi.

Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS015 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp144 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 84,86%. Diikuti oleh perdagangan PBS013 senilai Rp120 miliar dari 4 kali transaksi di harga rata-rata 99,84%.

Untuk surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan pada perdagangan kemarin mencapai Rp387,3 miliar dari 32 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap I Tahun 2017 Seri B (ISAT02BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp106 miliar dari 10 kali transaksi di harga rata-rata 98,63%. Diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan III Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2018 Seri A (MEDC03ACN2) senilai Rp50 miliar dari 1 kali transaksi di harga rata-rata 100,25%.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 15 pts atau 0,1% ke level Rp14.602,5.

Secara  teknikal, harga SUN masih bergerak pada tren kenaikan harga seiring dengan aliran modal asing yang masuk di pasar SBN sepanjang November 2018. Namun, indikator teknikal juga menunjukkan bahwa pergerakan harga SUN mulai memasauki area konsolidasi sehingga pergerakan harga kemungkinan akan terbatas.

Terlebih, harga SUN yang mendekati area jenuh beli (overbought) akan membatasi potensi berlanjutnya tren kenaikan harga.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top