Impor India Melonjak, Harga Minyak Global Terkerek

Impor minyak mentah India pada Oktober naik ke level tertingginya setidaknya dalam tujuh tahun terakhir dengan mencatatkan kenaikan 10,5% dari tahun sebelumnya menjadi 21,02 juta ton.
Mutiara Nabila | 21 November 2018 21:50 WIB
Harga minyak naik - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Impor minyak mentah India pada Oktober naik ke level tertingginya setidaknya dalam tujuh tahun terakhir dengan mencatatkan kenaikan 10,5% dari tahun sebelumnya menjadi 21,02 juta ton.

Berdasarkan data Petroleum Planning and Analysis Cell (PPAC) Kementerian Minyak India, jumlah tersebut merupakan jumlah impor tertinggi dan menyamai jumlah impor pada April 2011 Silam.

Kenaikan jumlah impor minyak mentah di India disebabkan oleh banyaknya pengilang minyak yang melanjutkan pembelian setelah melakukan perbaikan pada unit operasi kilang minyaknya.

Pada Oktober, impor minyak ke Afrika juga melambung ke level tertinggi selama tiga tahun. Di India sebagai konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, impor minyak umumnya naik pada Oktober karena kenaikan permintaan bahan bakar dalam musim festival dan karena aktivitas industri bertambah setelah dilanda hujan monsun.

India juga merupakan salah satu dari delapan negara yang menerima keringanan sanksi dari Amerika Serikat untuk bisa melanjutkan impor minyak dari Iran tanpa penalti setelah sanksi terharap Teheran mulai berlaku pada 4 November lalu.

Impor minyak mentah India dari Iran anjlok sekitar 12% menjadi 466.000 barel per hari pada Oktober. Keseluruhan pembelian minyak dari Negeri Bollywood itu ke Iran sejak Aril – Oktober, tujuh bulan pertama tahun fiskal 2018 – 2019, mengalami kenaikan hingga 34%.

Sementara itu, impor untuk produk minyak lainnya menurun hingga 20% dan ekspornya turun 4%.

Harga minyak mentah dunia ikut terdorong karena jumlah permintaan minyak dari India yang mencatatkan kenaikan.

Pada perdagangan Rabu (21/11), harga minyak Brent mencatat kenaikan 0,91 poin atau 1,46% menjadi US$63,44 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) naik 0,89 poin atau 1,67% menjadi US$54,32 per barel dari sesi sebelumnya saat harga minyak mentah anjlok hingga 6%.

Analis PT Monex Invesindo Futures Dini Nurhadi Yasyi menuturkan bahwa pelemahan harga minyak pada Selasa (20/11) hingga 6% tertekan oleh masih adanya kekhawatiran oversupply di AS serta aksi jual bursa saham yang terjadi secara global.

Selain itu, penguatan harga minyak juga terdorong oleh laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan cadangan minyak AS mengalami penurunan hingga 1,5 juta barel selama sepekan lalu.

Kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi secara global terlihat masih menjadi pemicu yang membuat para pelaku pasar menjauhi aset berisiko.

“Outlook melimpahnya jumlah persediaan minyak di AS di tengah potensi pengurangan permintaan karena kondisi ekonomi global yang dinilai belum seimbang memang menjadi sentimen yang akan memicu volatilitas harga minyak,” ungkapnya, dikutip Bisnis dalam laporan harian, Rabu (21/11/2018).

Untuk selanjutnya pergerakan harga minyak pada hari ini bergantung pada laporan mingguan dari Energy Information Administration (EIA) AS dengan ekspektasi kenaikan pasokan minyak hingga 2,5 juta barel.

“Jika benar atau bahkan data dirilis lebih tinggi dari ekspektasi, maka pelemahan harga minyak berpotensi menguji support terdekat di area US$52,80 per barel. Jika menembus level tersebut, pelemahan selanjutnya akan mengincar level psikologis US$52,00 per barel,” papar Dini.

Adapun, Dini memproyeksikan resisten terdekat untuk harga minyak WTI saat ini berada di area US$54,70 per barel. Selama harga bergerak di bawah level tersebut, harga minyak akan cenderung untuk turun.

Selain itu, jika sentimen pengetatan produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mendominasi pergerakan pasar, maka harga minyak WTI perlu menembus US$54,70 per barel sebelum bisa naik ke US$55,30 per barel.

Tag : Harga Minyak, komoditas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top