Permintaan Diprediksi Melemah, Harga Batu Bara Justru Mulai Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 ditutup menguat 0,05% atau 0,05 poin di level US$98,20 per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 November 2018  |  08:05 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara mengakhiri reli pelemahan lima hari berturut-turut pada akhir perdagangan Selasa (20/11/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Februari 2019 ditutup menguat 0,05% atau 0,05 poin di level US$98,20 per metrik ton.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 masih melanjutkan pelemahannya sebesar 1,13% atau 0,95 poin ke level US$83,45 per metrik ton kemarin.

Adapun harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange ditutup rebound dengan penguatan 0,13% atau 0,8 poin ke level 611 yuan per metrik ton pada perdagangan Selasa.

Meskipun menguat, tim analis Daiwa Securities mengungkapkan permintaan batu bara, terutama dari pembangkit listrik batubara swasta diperkirakan melemah karena persediaan yang melimpah.

“Lebih jauh ke depan, pertumbuhan pasokan batu bara China akan melebihi permintaan hingga 2020 dan patokan harga mungkin mundur ke 500-585 yuan / ton selama periode tersebut,” ungkap analis Daiwa Securities termasuk Dennis Ip, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) terjerembab ke bawah level US$54 per barel untuk pertama kalinya dalam setahun.

Merosotnya harga terjadi di tengah kekhawatiran bahwa rencana OPEC untuk memangkas produksi tidak akan cukup untuk membendung lonjakan stok minyak.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januasi 2019 mengakhiri sesi perdagangan Selasa (20/11) dengan anjlok 6,59% atau 3,77 poin di level US$53,43 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah berakhir menguat hampir 1% di level 57,20 pada perdagangan Senin (19/11).

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Januari 2019 ditutup anjlok 6,38% atau 4,26 poin di level US$62,53 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London pada Selasa, setelah berakhir di posisi 66,79 pada Senin. 

Laporan pemerintah AS yang akan dirilis Rabu (21/11) waktu setempat mungkin menunjukkan peningkatan persediaan minyak mentah AS untuk pekan kesembilan berturut-turut, menurut survei analis Bloomberg.

Aksi jual dalam ekuitas global menambah tekanan pada minyak yang telah terbebani kekhawatiran tentang berkurangnya permintaan. Indeks Energi pada S&P 500 tergelincir 3,5%, dengan seluruh anggota mengalami penurunan. Saham Devon Energy Corp dan Newfield Exploration Co. mencatat penurunan terburuk, masing-masing sebesar lebih dari 7%.

“Saya rasa Anda akan melihat jenis pasar yang menghindari risiko,” ujar Tariq Zahir, pengelola dana komoditas di Tyche Capital Advisors LLC, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Tidak akan mengejutkan untuk melihat level terendah baru pada minyak jika persediaan minyak AS melonjak.”

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Februari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

20 November

98,20

(+0,05%)

19 November

98,15

(-0,20%)

16 November

106,85

(-0,60%)

15 November

102,30

(-0,15%)

14 November

102,45

(-4,12%)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top