Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Masih Mencoba Melaju

Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pasar obligasi saat ini masih mencoba untuk terus melaju, meskipun total transaksi dan frekuensi pada perdagangan Senin (19/11/2018) menurun dibandingkan hari perdagangan sebelumnya.
Emanuel B. Caesario | 21 November 2018 09:56 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai pasar obligasi saat ini masih mencoba untuk terus melaju, meskipun total transaksi dan frekuensi pada perdagangan Senin (19/11/2018) menurun dibandingkan hari perdagangan sebelumnya.

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa pasar obligasi pada Senin (19/11) cenderung mengalami kenaikan meskipun tidak besar. Pasar obligasi dinilai masih mencoba melampaui kenaikan harga sebelumnya agar dapat mengubah tren jangka pendek.

Namun, khusus imbal hasil obligasi bertenor 15 tahun, disebut berpotensi untuk mengalami penurunan karena sudah mengalami titik jenuh.

Menurutnya, apabila ditarik garis medium term, maka harga obligasi mulai mengalami fase konsolidasi. Namun, penantian atas berakhirnya perang dagang AS-China akan menjadi titik balik bagi pasar modal Indonesia karena akan memberikan dorongan positif. 

Meski demikian, saat ini, perhatian utama masih tertuju pada Brexit. Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May masih menghadapi ancaman mosi tidak percaya dari dalam negeri.

Faktor eksternal lainnya adalah pelaku pasar tampaknya tidak lagi satu suara mengenai kenaikan suku bunga acuan dari bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) pada tahun depan. Hal ini memperlihatkan bahwa investor mulai khawatir terkait outlook ekonomi di kawasan Eropa. 

Konsensus pasar atas kenaikan suku bunga pertama ECB pada Desember 2019, telah turun dari 100% menjadi 95%. Penurunan ini merupakan akibat dari masih tingginya tensi antara Italia yang tidak mau merevisi proposal anggaran untuk tahun depan. 

Dalam proposal anggarannya, Italia menargetkan defisit tumbuh 2,4% terhadap PDB, nilai yang sebenarnya masih dalam batas syarat Uni Eropa (UE) yaitu sebesar 3%. Masalahnya adalah Italia menolak untuk mengurangi pinjamannya. 

"Tarik ulur ini masih akan terus berkembang dan kami merekomendasikan hold hingga berpotensi jual hari ini apabila rentang pergerakan melebihi 45 bps. Rekomendasi jual khusus obligasi 15 tahun," papar Nico dalam riset harian, Rabu (21/11).

Tag : Obligasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top