Sentimen Saham Rokok Positif Berkat Kebijakan Pemerintah

Prospek saham rokok mengharum seiring dengan potensi peningkatan kinerja pada tahun depan. Salah satu faktor penting yang mendorong ialah rencana penetapan dua kebijakan oleh pemerintah yang disampaikan pada November ini.
Hafiyyan | 21 November 2018 14:22 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek saham rokok mengharum seiring dengan potensi peningkatan kinerja pada tahun depan. Salah satu faktor penting yang mendorong ialah rencana penetapan dua kebijakan oleh pemerintah yang disampaikan pada November ini.

Kebijakan itu ialah, pertama, cukai rokok tidak akan meningkat pada 2019. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 2 November 2018.

Kedua, pada pekan lalu, pemerintah membeberkan ada 54 industri yang keluar dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Dari daftar tersebut, industri rokok termasuk rokok kretek, rokok putih, dan rokok lainnya keluar dari DNI.

Dengan demikian, relaksasi DNI di indutsri rokok mengundang Penanaman Modal Asing (PMA) masuk. Di sisi lain, perusahaan akan mendapat kemudahan dalam pengurusan perizinan. 

Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto menyampaikan, rencana kebijakan pemerintah memberikan sentimen positif bagi emiten rokok. Apalagi, persoalan penetapan cukai yang selama ini membebani ongkos perusahaan hingga 50%-60% dari keseluruhan beban pokok.

“Namun, kami pelaku pasar tentunya masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah dan bentuk peraturannya seperti apa, khususnya soal tidak naiknya tarif cukai,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (19/11/2018).

Natalia menuturkan, dengan cukai yang stagnan, margin pendapatan emiten rokok semakin menebal. Di sisi lain, volume penjualan berpotensi meningkat bila harga jual tidak terlalu dinaikkan mengikuti tarif cukai. 

Dia pun merekomendasikan beli terhadap saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna dengan target harga masing-masing Rp84.000 dan 4.200 dalam 12 bulan ke depan.

Dalam jangka pendek, investor juga mempertimbangkan faktor window dressing sehingga saham berkapitalisasi besar seperti keduanya kembali dilirik.

Kapitalisasi pasar mencapai Rp150,46 triliun dengan price to earning ratio (PER) 19,59 kali. Dalam waktu yang sama, saham HMSP turun 20 poin atau 0,58% menjadi Rp3.400. Kapitalisasi pasarnya sebesar Rp395,48 triliun dengan PER 30,63 kali. 

Kendati melesu, saham keduanya cenderung mengalami peningkatan dalam waktu dekat. Dalam sepekan terakhir, saham GGRM menguat 3,3%, sedangkan saham HMSP naik 3,03%.

Tag : hmsp, emiten rokok, kinerja emiten, ggrm
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top